PRESTIGE, AMBISI, ATAU IMPIAN?


Intro

Perkenalkan, nama gue Irfan, seorang mahasiswa yang sedang berada dalam masa akhir liburan ketika menulis tulisan ini. Ketika membuka Instagram, gue ga sengaja melihat instagram Zenius yang ternyata sedang mengadakan lomba blog dengan tema Nyesel Pake Zenius. Seketika gue teringat lagi dengan masa lalu kehidupan per-akademisan gue yang cukup berliku. Cerita ini akan gue bagi kedalam tiga bagian yaitu, masa sebelum SMA, masa ketika SMA, dan masa gap year. Kenapa sampai dibagi ke dalam tiga bagian? Karena menurut gue proses pendidikan itu saling berkaitan. Diri lu yang sekarang adalah hasil yang didapat dari proses-proses pendidikan di masa lampau.

Percayalah ini belum semua tes yang gue ikuti selama
2 tahun kebelakang


Masa Sebelum SMA

Sekolah Dasar adalah masa dimana gue masih mengenal yang namanya belajar sepulang sekolah, ikut les, ngaji, dan keteraturan lainnya. Tidak heran jika gue kecil tidak pernah keluar dari peringkat lima besar. Gue sebenarnya termasuk orang yang mudah mempelajari hal baru, terutama jika hal itu menarik bagi gue. Jadilah masa SD gue aman tentram sampai Ujian Nasional datang. Nilai UN yang gue dapat saat itu terbilang kecil dibanding nilai TO yang sering dliakukan. Sebelumnya, gue mau memberi tahu kalau di dekat kediaman gue ada satu SMP dan SMA favorit yang letaknya sangat dekat, mungkin hanya butuh waktu 2 menit untuk sampai dengan berjalan kaki. Tetapi dengan nilai akhir UN 24.20 pada saat itu tidak bisa menghantarkan gue ke SMP yang gue inginkan.

Akhirnya gue terpaksa masuk ke SMP yang letaknya lumayan jauh dengan lingkungan dan pengajaran yang menurut gue "kurang" baik. Segala macam kenakalan yang mungkin kalian baru rasain di SMA sudah gue rasain lebih dulu di SMP. Dari segi akademik gue masih mencoba serius, terbukti dari gue yang sempat mewakili sekolah untuk ikut lomba IPA dan Bahasa Inggris kala itu yang entah tingkat apa haha. Masa SMP menjadi turning point pertama gue, yang dulunya seorang anak rumahan yang tidak tau apa-apa menjadi tau kerasnya dunia (ini berlebihan sih kayanya tapi yaudahlah).


Beruntungnya, ketika kelas tiga, gue bertemu dengan beberapa teman yang bisa mengingatkan untuk belajar (kalo sekarang bahasa kerennya ngambis). Ketika Ujian Nasional SMP berlangsung, banyak teman-teman di sekolah gue yang menggunakan dan menawarkan kunci jawaban. Tapi gue sama sekali ga tertarik. FYI, gue tuh paling benci sama yang namanya nyontek. Gue berusaha sebisa mungkin untuk ga nyontek, walau kadang gue juga nyontek saat keadaan terdesak, misalnya ketika ujian tulis olahraga atau pelajaran yang gue anggap ga penting hehe. Buat kalian yang masih sekolah gue saranin sebisa mungkin jangan nyontek, karena nyontek adalah cara yang paling nyata untuk menghina ilmu. Ujian Nasional selesai dan hasil yang gue dapatkan kali ini terbilang lumayan memuaskan, mengingat gue yang berasal dari SMP yang biasa-biasa saja. Bahkan di sekolah gue yang melanjutkan pendidikan ke SMA bisa dihitung pake jari (ga juga sih tapi pokoknya dikit bet dah). Tetapi tetap saja, gue lagi-lagi gagal masuk SMA favorit yang berlokasi dekat rumah.

Masa SMA

Cerita masa SMA dimulai. Masa paling indah katanya, memang begitu nyatanya, paling tidak ini yang gue rasakan setelah 2 tahun tidak mengenakan seragam putih abu-abu. Kelas 10 gue lalui dengan normal, dalam artian belajar ketika besoknya ulangan, ya itu bagi gw adalah normal hahaha. Waktu gue lebih banyak dihabiskan buat main sama temen dan juga main game online. Sebenernya gue udah lama akrab sama yang namanya game online, tetapi saat masuk SMA frekuensi gue bermain semakin bertambah gila. Bahkan gue sempat beberapa kali menjuarai lomba game online sampai tingkat nasional (gue gatau ini prestasi yang membanggakan atau tidak). Hal ini tentu mengorbankan waktu belajar gue yang sudah sedikit menjadi lebih sangat amat. Jadwal latihan yang cukup padat memaksa gue untuk menomor seratuskan belajar.



Walaupun gue jarang banget belajar, tetapi nilai rapot gue entah kenapa terbilang cukup aman, gak bagus ya gue bilang, tapi aman lah. Ketika naik ke kelas 11, gue mulai tertarik sama suatu pelajaran yaitu kimia. Btw gue anak IPA ya. Sedangkan tiga pelajaran IPA lainnya gw ga terlalu suka, khusus fisika, gue benci. Seandainya gue kenal Zenius saat itu, dan gue baca tulisan ini di blog Zenius, mungkin gaakan ada pelajaran yang gue benci hahaha. Tapi yaudahlah, nasi sudah menjadi porridge. Balik lagi ke kimia. Berkat ke-sukaan gue dengan kimia, dipilihlah gue untuk ikut Olimpiade kimia sama guru gue. Sebenernya gue ga pinter-pinter amat, cuma suka aja sama kimia waktu itu. Jadilah gue ga lolos saat masih tahap pertama dengan skor yang hanya berbeda 1 dengan peserta yang lolos. Lumayan lah ga terlalu cupu banget ya gue.

Gue gatau kenapa itu bisa salah ketik jadi komputer

Singkat cerita, naik ke kelas 12. Masa dimana udah banyak yang ngomongin UN USBN SBMPTN SNMPTN dll. Gue udah mulai tersadar dan akhirnya mulai ikut bimbel. Gue juga sudah membuat target yaitu bisa masuk UI. Bermain game online juga udah gue hentikan sejak naik ke kelas 12. Bukan hal yang mudah memang, tapi gue lakukan demi UI. Tidak banyak hal yang dilakukan di kelas 12 selain belajar mengejar ketertinggalan, karena materi UN dan SBMPTN ternyata berpondasi pada kelas 10 dan 11, dimana pada masa itu gue masih ga ngerti apa-apa dan efeknya baru gue rasakan sekarang.

Bulan berganti bulan, tidak terasa UN sudah didepan mata. Jujur, gue sama sekali tidak merisaukan UN. Fokus gue hanya ke SBMPTN. Ohiya, tentang SNMPTN gue mendapat kuota untuk mendaftar tapi gue sama sekali tidak menaruh harapan pada jalur gacha ini. Btw pilihan gue saat itu adalah kimia UI. Ujian Nasional pun berlalu. Setidaknya gue dapat nilai yang tidak terlalu jelek.

Kalian tau lah kenapa gue ambil Kimia

Sisa satu bulan lagi sebelum hari pembalasan tiba (red:sbmptn). Hari-hari gue diisi dengan belajar, latihan soal, dan juga datang intensif yang diadakan oleh bimbel gue. Kemalasan yang gue lakukan di kelas 10 dan 11 memang harus gue bayar sekarang dengan harga yang mahal. Nilai TO gue semakin membaik seiring berjalannya waktu dengan hanya mengandalkan TKPA dan Kimia sebagai andalan di bagian saintek, sedangkan fisika menjadi momok menakutkan bagi gue.


Pendaftaran SBMPTN pun tiba. Ya, itulah daftar pilihan gue saat itu. Memang terlihat sangat konyol,  bahkan gue salah melihat passing grade yang seharusnya kimia gue taro dipilihan terakhir eh malah gue taro di pilihan kedua. Sebenernya alasan terkuat kenapa gue berani taro semua pilihan gue di UI karena saat TO terakhir yang diadakan bimbel gue mendapat peringkat ke 2 dari keseluruhan murid bimbel tersebut sejakarta. Otomatis tingkat kepedean gue naik amat drastis dan jadilah pilihan seperti itu.

Selasa, 8 Mei 2017. Gue berangkat ke tempat tes dengan penuh percaya diri, sampai akhirnya tes dimulai. "Soalnya susah gilaa!". Itulah kesan pertama gue pas ngeliat soal SBMPTN secara nyata. Tapi gue tetap stay cool dan mencoba mengerjakan sebisa gue dengan rincian:

SBMPTN 2017
SBMPTN 2018
TKPA : Semua , Matdas : 3
TKPA : Semua , Matdas : 13,salah 1
Matematika IPA : 5, benar 3 salah 2
Matematika IPA : 10, salah 0
Kimia : 12, benar  10 salah 2
Kimia : 14 ,salah 4
Fisika : 3, benar 2 salah 1
Fisika : 5, salah 2
Biologi : 10, benar 2 salah 8
Biologi : 9 , salah 3

Dengan hasil demikian, tidak cukup mengantarkan gue untuk memakai jaket kuning dan membuat gue harus melihat kata semangat pada saat pengumuman SBMPTN 2017. Setelah pengumuman sebenarnya gue masih ikut beberapa ujian mandiri yang gue lakuin atas desakan orang tua, sedangkan gue pribadi udah gaada minat buat kuliah selain di kampus kuning (jangan ditiru ya).


Masa Gap Year

"Kamu tidak bisa membunuh sebuah mimpi, karena suatu saat ia akan kembali dalam bentuk penyesalan"

Momen ketika ditolak SBMPTN adalah momen yang tidak terlupakan buat gue. Merasa senang ketika melihat teman seperjuangan mendapatkan apa yang diimpikannya tapi disisi lain harus menerima kenyataan bahwa belum saatnya bagi gue untuk merasakan euforia itu. Kehidupan gue jalani tanpa ada tujuan yang jelas. Gue memang sudah yakin mau gap year, tapi masih bingung apa yang akan gw lakukan setahun kedepan. Sampai akhirnya gue bertemu tulisan yang sangat berfaedah di Zenius blog. Sebenernya gue sempat bimbang apakah harus ikut bimbel Online atau bimbel pangkalan. Tetapi setelah gue baca beberapa artikel di Zenius blog yang keren abis gue langsung memutuskan beli Zenius Xpedia yang saat itu lagi diskon 10% hehe.

Ternyata ciri tersebut belum ada pada diri gue
(sumber www.instagram.com/zeniuseducation
)

Paket Xpedia pun datang beberapa hari kemudian. Gue dan Zenius menjadi seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Pagi sampai sore gue pantengin terus tuh layar monitor gue. "Gila!! kemana aja gue selama ini". Perasaan itulah yang muncul ketika gue menggunakan Zenius. Ternyata apa yang gue pelajarin di sekolah ataupun di bimbel itu semua hanya menghafal dan tidak ada essensinya. Zenius mengajarkan untuk memahami suatu konsep dari suatu materi, bukan menghafal. Gue yang dulu ga pernah hafal rumus pencerminan ternyata di Zenius diajarkan supaya paham dalam menggambar grafiknya. Berkat Zenius gue juga jadi suka nontonin video tentang pengetahuan di Youtube seperti TED,Insider, Khan academy, dan lain-lain. Gue juga menyarankan kalian buat nonton video bang Sabda ketika bicara di acara buka lapak yang menurut gue keren abis.


Banyak banget hal yang gue dapetin di Zenius dan gak gw dapetin di sekolah ataupun bimbel biasa. Gue juga mau ngucapin terima kasih buat semua tutor terutama bang Sabda dengan suara kecenya. Banyak hal yang menarik yang diceritain bang Sabda ketika mengajar. Contohnya saat ngejelasin materi fisika modern, bang Sabda ngejelasin materi sambil ngasih fakta bahwa Einstein tidak mendapatkan nobel karena Teori Relativitasnya , melainkan karena Efek Fotolistrik. Suatu hal yang sederhana, tapi membuat gue penasaran dan akhirnya browsing untuk mencari tau lebih dalam dan akhirnya mempelajari sendiri. Hal tersebut berlaku juga untuk materi lain. Berkat konsep Critical Thinking gue bahkan masih penasaran apabila sekarang adalah hari minggu, bagaimana kita bisa percaya kalo sekarang benar hari minggu? Apakah saat hari minggu ada ciri khusus yang tidak dimiliki oleh hari lain?. Soalnya kan kalo konsep bulan berdasar pada lamanya bulan mengelilingi bumi, dan konsep tahun berdasar pada revolusi bumi. Lalu juga kenapa 1 minggu itu 7 hari, atas dasar apa? Kenapa gak 8 hari atau 10 hari. Mungkin kalian anggap ini enggak penting, tapi sebagai seorang yang harus menjalani kewajiban di hari tertentu menurut gue ini cukup penting.

    Hari demi hari terlewati. Hubungan gue dengan Zenius mulai merenggang, yang biasanya setiap hari bertemu kini hanya kutemui bila sempat. Kata-kata motivasi dari bang Sabda yang selalu menyemangatiku mulai sayup tak terdengar. Gue khilaf, lupa tujuan awal gue ketika memutuskan untuk gap year. Kegiatan gue banyak dihabiskan buat sesuatu yang ga penting, terutama ngegame.( ya, penyakit ngegame gue kambuh lagi ketika gap year).

Hingga hari-hari menjelang SBMPTN, barulah hubungan gue dengan Zenius mulai membaik. Gue buka lagi Zenius yang sudah lama tak gue buka. Tentunya, waktu yang tinggal sedikit membuat gue harus bekerja ekstra di minggu-minggu terakhir. Ketika pendaftaran gue kembali memilih UI untuk pilihan 1 dan 2, tetapi kali ini gue pilih IPB di pilihan ke 3 karena desakan dari orang tua. Gue yang sadar diri karena belajar yang tidak maksimal akhirnya menuruti pilihan orangtua. 

Hari pembalasan pun tiba (lagi). Gue dapet lokasi tes di UI. YA..UI. Gue menginjakan kaki di kampus yang udah menolak gue berkali-kali tapi tetap gue cintai. Tidak seperti tahun lalu, ujian kali ini berjalan sangat lancar. Rincian soal yang gue kerjakan bisa kalian lihat di tabel sebelumnya. Gue merasa senang karena bisa melalui ujian kali ini dengan baik, tapi gue juga merasa kurang puas karena seharusnya gue bisa mengerjakannya lebih baik lagi jika waktu gap year gue manfaatkan dengan baik. 

Rabu, 3 Juli 2018. Hari dimana banyak hati yang dibuat berbunga, tetapi lebih banyak hati yang dibuat kecewa. Setelah menunggu kurang lebih 2 bulan, Astagfirullah dan Alhamdulillah gue ucapkan ketika membuka hasil SBMPTN. Alhamdulillah karena ga gap year lagi, dan Astagfirullah karena gue sekali lagi harus menerima kenyataan kalau gue gagal masuk kampus kuning.


                        "Terima aja apa yang udah Tuhan kasih, ia pasti tau yang terbaik buat kamu"

Kalimat itu mungkin terlihat sangat cocok bagi gue. Tapi gue ga pernah sepenuhnya setuju dengan kalimat tersebut. Menurut gue kalimat itu hanyalah pembelaan bagi orang-orang yang mau mengubur mimpinya karena kenyamanan sesaat. Kalimat yang membuat orang tidak mau berusaha mencapai impiannya. Pada akhirnya,banyak pengalaman yang bisa didapat dari sebuah kegagalan yang bisa menjadikan hidup kalian lebih kuat kedepannya. Pada pengalaman gue, penyesalan ringan gue adalah telat mengenal Zenius, dan penyesalan besar gue adalah memakai zenius. Ya, gw menyesal make Zenius karena gue tidak bisa memanfaatkan waktu yang gue punya untuk memaksimalkan Zenius itu sendiri.









Comments

Post a Comment

Popular Posts