PERSPEKTIF IBADAH

Ibadat atau Ibadah adalah sebuah kata yang diambil dari bahasa Arab ‘Ibadah (عبادة). Dalam terminologi bahasa Indonesia sebagaimana yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ini memiliki arti:
  1. Perbuatan atau penyataan bakti terhadap Allah atau Tuhan yang didasari oleh peraturan agama.
  2. Segala usaha lahir dan batin yang sesuai perintah agama yang harus dituruti pemeluknya.
  3. Upacara yang berhubungan dengan agama.

Sedangkan jika menggunakan definisi gue, Ibadah adalah perbuatan dengan niat yang dilakukan oleh seorang beragama yang dilandasi kecintaan terhadap sang pencipta dan berdasar kepada aturan-aturan yang berlaku dalam agama terkait. Dalam tulisan kali ini gue ingin membahas esensi ibadah dalam Islam. Semua pembahasan yang ada setelah ini merupakan murni hasil pemikiran pribadi dan tidak ada landasan yang kuat, sehingga sebaiknya hanya dijadikan sebagai suatu persektif tambahan dalam memahami suatu hal.

Berangkat dari definisi ibadah di atas, maka ibadah tidak hanya sebatas solat, puasa, dan zakat. Tapi lebih dari itu, hal-hal yang kita lakukan tiap hari bisa juga bernilai ibadah. Kesibukan duniawi terkadang menyita seluruh waktu kita yang berimplikasi pada lalainya kita beribadah. Tapi bukan itu yang ingin gue bahas di thread kali ini, melainkan “Bagaimana sih perhitugan pahala dari suatu ibadah?” Sebenarnya jika kita masih memikirkan pahala ketika beribadah, sebaiknya perlahan melupakan hal tersebut. Tetapi berhubung bahasan kita adalah mengenai pahala, mari kita hadirkan kembali variabel itu.

Apabila ada seorang pendosa yang jarang solat dan ulama yang sama-sama mengerjakan solat, apakah pahala yang didapat akan sama? Menurut gue enggak. Seorang pendosa akan memerlukan "effort" lebih untuk mengerjakan solat dibandingkan dengan seorang ulama yang sudah sangat biasa mengerjakan solat dan tidak menganggap solat sebagai suatu hal yang memberatkan. Maka dari itu, menurut gue pendosa akan mendapat pahala yang lebih besar dibanding seorang ulama dalam kasus ini. Jika diibaratkan, seorang ibu dengan dua anak dimana satu anak merantau sedangkan satunya lagi berada di rumah. Tentu sang ibu menyayangi kedua anaknya, tetapi sang ibu akan lebih senang jika anaknya yang merantau kembali untuk menemuinya, tanpa mengurangi rasa sayangnya terhadap anak yang ada di rumah. Dasarnya sih gue berpikir bahwa semakin berat menjalankan suatu ibadah maka semakin besar pahala yang didapatkan. Contoh ibadah yang gue anggap memiliki pahala yang besar adalah Solat Tahajud, Puasa Syawal, dan Solat dua rakaat sebelum Subuh.  Tahajud, Bayangin aja disaat lagi enak-enaknya tidur, siapa yang mau meluangkan waktunya buat solat. Puasa Syawal,  setelah berpuasas satu bulan penuh, setelah hari raya idul fitri yang merupakan hari kemenangan, kita disuruh berpuasa lagi selama enam hari. Solat dua rakaat sebelum subuh, solat subuhnya aja males, siapa juga yang mau nambah dua rakaat sebelumnya. Sebenarnya, dasar yang paling kuat dari pandangan gue ini adalah permisalan dalam bersedekah. Tentu seorang yang memiliki kekayaan lebih akan diuntungkan dalam hal bersedekah jika perhitungan ibadah apple to apple. Intinya sih gue memiliki pemikiran bahwa perhitungan pahala ibadah itu didasarkan dari effort yang dikeluarkan atau berapa besar materil yang kita keluarkan berdasarkan keseluruhan yang kita miliki. Pesan dari gue, beribadahlah dengan keyakinan kalian masing-masing, karena efek beribadah itu kalian sendiri yang akan merasakan. Kalau bisa juga ga usah mikirin perhitungan pahala segala seperti yang gue pikirin hehe, karena sebenarnya semuanya terserah Tuhan.
      









Comments

Popular Posts