Selamat Natal


(source: https://ro.pinterest.com/pin/232779874480378567/)

Mengucapkan selamat natal atau hari raya keagamaan lain bagi seorang muslim sudah sejak lama menjadi perdebatan dalam masyarakat Indonesia. Nyatanya, memang terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama terkait hal ini. Kebanyakan ulama di Indonesia memang mengharamkan mengucapkan selamat natal. Alasannya, karena dengan mengucapkan selamat natal kita dianggap mengakui kebenaran agama tersebut. Tentu, pendapat ini belum tentu salah, pun belum tentu benar.  Akan lebih baik jika masyarakat mencari tahu apa yang mendasari lahirnya ijtima tersebut, karena tidak sedikit ulama di luar Indonesia terutama di dataran arab yang memperbolehkan pengucapan selamat natal ini.

Menurut gua pribadi, mengucapkan selamat natal atau hari raya keagamaan apapun tidak akan menjadi masalah, selama itu hanya sekadar ucapan. Maksudnya, kita mengucapkan hal tersebut untuk menjaga toleransi, bukan dengan maksud lain-lain. Gua sendiri adalah tipe orang yang tidak terlalu menganggap ucapan itu penting. Sikap, perbuatan, dan apa yang ada di dalam hati menurut gua lebih penting ketimbang sebuah ucapan. Disini gua akan coba memberi perumpamaan, karena gua adalah orang yang sungguh suka dan percaya dengan perumpamaan, asalkan tepat. Ketika seseorang (non muslim) mengucapkan dua kalimat syahadat dengan iseng tanpa didasari keyakinan atas kalimat tersebut, apakah lantas dia akan menjadi seorang muslim? Menurut gua tidak sama sekali. Bahkan, kalian yang katanya muslim, pernahkah kalian mengucapkan dua kalimat syahadat secara sadar dengan niat untuk masuk Islam? Rasanya tidak pernah. Tapi menurut gua kalian tetaplah seorang muslim karena perbuatan dan hati kalian memang berada di posisi tersebut. Lagi, pernahkah kalian mengatakan kalian cinta pada orang tua atau pacar kalian, tetapi perilaku kalian tidak mencerminkan hal tersebut? Gua termasuk tipe orang yang tidak suka mengungkapkan tetapi lebih suka menunjukkan, tetapi akan lebih bagus jika kalian bisa keduanya.

Ucapan tidak akan memiliki makna jika tidak didasari hati, tetapi hati sungguh memiliki makna walau tiada kata yang terucap. Karena dalam Islam sendiri iman adalah keyakinan di dalam hati, ucapan dalam lisan, dan amalam anggota badan. Terkait tentang mengakui hari raya terkait jika kita mengucapkannya, memang secara konstitusional kita seluruh warga negara Indonesia mengakui adanya hari raya keagamaan lain. Terbukti dari negara kita yang memberikan tanggal merah dan juga Pemerintah yang bahkan melalui Kementrian Agama memberi ucapan resmi. Karena agama seharusnya menjadikan kita pribadi yang lebih baik, bukan membuat kita merasa paling benar. Karena ketika kita merasa paling benar kita cenderung menyalahkan yang berbeda dengan kita, dan disitulah terjadi perpecahan -pp. 


     

Comments

Popular Posts