Hebatnya Otak Kita

                                                                               (source: etsy.me)

Otak adalah anugerah terbesar bagi umat manusia terlepas untuk hal apa otak tersebut digunakan. Sebelumnya, izinkan gue mengganti semua kata "otak" yang akan tertulis nantinya menjadi "dudu" agar pembahasan menjadi lebih santai dan tidak terlalu formal. Dudu yang dimaksud di sini adalah dudu milik manusia ya, yang secara fisik dan struktural memungkinkan terjadinya proses dan hal menakjubkan, tidak seperti sebagian besar hewan. Dudu ini ibaratnya seperti pemimpin dalam sebuah organisasi. Ia ini sosok pemimpin yang hebat loh, buktinya dia bisa mengatur dan mengoordinasikan berbagai macam anak buah dengan baik dan jarang ada yang berantem. Tetapi tak bisa dipungkiri bahwa kinerja dari dudu juga dipengaruhi oleh berbagai organ yang Masya Allah sudah well-organized sehingga manusia dapat melakukan berbagai hal yang mungkin kalian tidak sadari bahwa itu sebenarnya keren, yang akan gue coba ceritain di sini. 

                                                (source: http://childrenangelicajournal.mashabli.ru)

Awal bulan Maret ini, masyarakat Indonesia digegerkan dengan pembunuhan terhadap seorang balita yang dilakukan oleh seorang remaja berusia 15 tahun. Hal yang membuat banyak orang heran adalah kelakuan remaja ini yang menyerahkan diri ke kantor polisi dengan tidak adanya rasa penyesalan yang tercipta usai melakukan hal keji tersebut. Kebanyakan orang langsung menyudutkan bocah tersebut, mengatakan ia psikopat, hingga mengucap berbagai sumpah serapah. Tetapi yang ingin gue highlight dari kasus ini bukan bagaimana kronologi atau kelanjutan nasib remaja tersebut, melainkan faktor yang mendorong terjadinya hal mengerikan tersebut.

Beberapa hari lalu, gue mendengarkan sebuah podcast mengenai pendapat seorang profesor di bidang psikolog terhadap peristiwa ini. Profesor ini memaparkan sebuah penelitian yang mengungkap bahwa ketika orang normal disuruh menonton suatu film / kejadian sadis misalnya pembunuhan, suatu bagian dari dudu mereka akan merespon dan memberikan sinyal sehingga kita merasa takut atau tidak tega. Sebaliknya, pada seorang yang biasa disebut psikopat tidak ada respon sama sekali pada dudunya ketika diberi perlakuan yang sama. Ironinya, seseorang yang sudah terlahir dengan kondisi dudu seperti ini tidak akan bisa berubah bahkan dengan terapi sekalipun, apalagi jika hanya dengan konsultasi dengan psikolog. Satu-satunya cara yaa dengan mengganti dudunya.

Sebenarnya, manusia dengan kondisi seperti ini jumlahnya sedikit, tetapi mungkin tidak beruntungnya remaja pada kasus ini yaitu ia mengalami kondisi yang cukup parah. Kalian juga pasti punya deh satu atau beberapa temen yang suka nonton film horror atau video-video gore. Tetapi tenang aja, tidak semua yang biasa kita anggap psikopat ini melakukan hal-hal jahat, mereka hanya memiliki kecenderungan, dan kecenderungan tersebut tentunya bisa dikendalikan. Faktor keluarga dan lingkungan sangat diperlukan untuk mengendalikan emosi seorang dengan gangguan dudu seperti ini. Bahkan, berdasarkan penelitian yang sama dengan sebelumnya didapati bahwa banyak orang yang dapat hidup normal walaupun memiliki gangguan seperti ini dan mereka malah cenderung memiliki kecerdasaran di atas rata-rata, pada bidang seni misalnya.


                                                                (source: boredart.com)

Pernah gak sih kalian ngeliat gambar atau lukisan seseorang lalu berpikir "kok bisa sih dia gambar sebagus ituu?" atau ngeliat temen kalian belajar alat musik terus ngedumel "perasaan belajarnya bareng sama gue deh, kok dia bisa cepet banget sih jagonyaa". Tipe orang seperti itulah yang gue anggap memiliki gift pada dudunyayaa walaupun semua orang memiliki gift-nya masing-masing, tapi yang lebih mudah kita sadari dan gue pribadi kagumi yaa di bidang seni ini. Beberapa orang mengatakan keahlian di bidang seni akibat sumbangsih dudu kanan atau adanya faktor keturunan etc. Terlepas dari semua itu, how Beethoven composed Moonlight Sonata while he was deaf and Van gogh with all of his paintings never fail to blow my mind. Keberadaan orang dengan kemampuan seni di atas rata-rata bisa dibilang cukup sedikit, atau bisa dibilang cukup sedikit yang sadar dan mengoptimalkan gift  yang mereka punya. Yang gue maksud di atas rata-rata itu mereka yang bisa menciptakan suatu karya yang tak terbayang oleh kita, bukannya orang yang disuruh menjiplak gambar terus hasilnya bagus atau orang yang jago main chord gantung di gitar hahaha. Di Indonesia sendiri orang yang gue anggap jenius dalam hal seni musik ialah Ahmad Dhani, sedangkan di bidang seni lukis mungkin Basoeki Abdillah. Menurut gue pribadi kecerdasan seni ini adalah jenis kecerdasan yang dapat berdiri sendiri, alias tidak terlalu dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual atau lainnya.

                                                        (source: scifi-fantasy-horror.com)

Mampu menulis dan membaca di usia dini, pandai matematika, pandai menghafal, dan kemampuan kognitif lainnya sejak dulu memang selalu menjadi tolak ukur kecerdasan seseorang. Banyak orang minder hanya karena memiliki kecerdasan intelektual yang kurang baik. Kondisi sosial saat ini memang cenderung menguntungkan bagi orang-orang intelek, mulai saat sekolah, masuk perguruan tinggi, hingga di dunia kerja pun orang-orang ini cenderung lebih mudah untuk mendapatkan "tempat". Padahal, tidak selamanya memiliki kecerdasan intelektual tinggi itu menguntungkan. Banyak kasus orang-orang jenius dalam berbagai bidang yang berakhir bunuh diri atau didiagnosa memiliki penyakit jiwa. Faktanya, menurut penelitian, protein-protein yang terdapat pada dudu orang jenius juga ditemukan pada dudu orang yang mengalami gangguan jiwa, jadi ternyata pernyataan yang mengatakan orang jenius itu cenderung gila benar adanya )).

Gue ingin berbagi sedikit pengalaman deh. Gue termasuk orang yang memiliki memori atau ingatan yang bisa dibilang kuat, banyak kenangan masa kecil ataupun hal-hal yang menurut gue semestinya sudah terlupakan namun masih terpatri di dudu gue. Misal; nama lengkap temen-temen SMA hingga posisi duduknya saat di kelas, sebagian besar nama orang tua teman ketika SD juga masih gue inget, dan berbagai kejadian dari kecil hingga sekarang yang tidak bisa diceritakan semuanya. Gue juga orang yang jarang banget belajar yang dalam artian menghafal ketika akan ujian. Gue cenderung baca semua materi, tapi hanya sepintas-sepintas, nanti ketika ujian entah bagaimana ada gambaran-gambaran di dudu gue yang seakan memberikan jawaban atas hal yang cuma sepintas gue baca. Cerita ini bukan bermaksud sombong atau gimana-gimana, tapi gue ingin ngasih tau aja bahwa ada sisi ga enaknya juga seperti anxiety, atau kadang feeling guilty atas kejadian dan kesalahan di masa lampau yang masih terbayang-bayang, dan pada kasus yang parah ketika kita tidak bisa mengendalikan diri mungkin bisa terjadi self blaming. 


                                                            (source: hair.zarlike.com) 

Kembali ke hakikatnya, manusia adalah makhluk yang unik. Mereka semua memiliki susunan dudu yang beragam yang membedakan satu dengan lainnya. Tidak ada manusia yang menjadi lebih mulia hanya karena memiliki kelebihan kemampuan, pun begitu tidak ada alasan juga bagi kalian yang setelah membaca thread ini merasa rendah karena berpikir tidak memiliki kelebihan di bidang apapun. Semua manusia memiliki kelebihannya masing-masing, hanya saja terkadang kelebihan itu tidak menonjol di suatu bidang karena sudah terporsi sedemikian rupa atau bahkan karena kalian mungkin belum mengetahui dan menggalinya. Akhir kata, segala kecerdasan di atas hanyalah tools yang mempermudah kalian dan hasil akhir tetap ditentukan dari seberapa besar usaha yang kalian lakukan. Anw, although Parasite won the oscar, The Greatest Showman still be the best movie so far imo. ))



   
     



Comments

Popular Posts