Cerpen Iseng



Pahlawan itu bernama Orang Tua

    Terhitung sudah genap satu bulan lamanya sejak pemerintah mengonfirmasi kasus positif COVID-19 pertama di Indonesia. Cukup aneh memang, tapi tidak mengejutkan. Virus Corona yang sering dijadikan candaan di social media, yang diguyonkan tidak bisa menembus sistem pertahanan tubuh masyarakat kita, kini berubah menjadi hal yang paling ditakuti. Jumlah korban positif terus bertambah tiap harinya seiring dengan belum ditemukannya vaksin untuk virus ini. Korbannya pun tak pandang bulu, mulai dari masyarakat biasa hingga beberapa pejabat Negara tak luput dari keganasan virus yang disinyalir berasal dari kelelawar ini. Kejadian ini tentunya menuntut pemerintah pusat mengambil langkah cepat untuk  memutus rantai penyebaran Virus tersebut. Salah satu langkah yang diambil pemerintah pusat yaitu meniadakan seluruh kegiatan tatap muka yang melibatkan banyak orang, yang berimplikasi pada banyaknya pelajar/mahasiswa yang terpaksa harus belajar secara daring di kediaman masing-masing. Sebenarnya banyak kontra yang muncul terkait kebijakan ini, terutama dari pihak mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mempertanyakan bagaimana nasib UKT yang telah mereka bayarkan  semester ini, atau bahkan uang kontrakan yang sudah mereka lunaskan untuk tahun ini. Tidak sedikit juga yang mengkhawatirkan kondisi jaringan internet di daerah mereka jika perkuliahan dilakukan secara daring, dan ada juga yang menganggap perkuliahan tidak akan efektif. Terkhusus di kampusku, kami menerima kabar ini ketika sedang melaksanakan UTS. Sebagian temanku menyayangkan keputusan yang terkesan mendadak ini dan berharap UTS dapat diselesaikan terlebih dahulu. Namun keputusan pemerintah yang diberikan ke kampus tersebut sudah bulat, suka tak suka, mau tak mau, kita semua harus menaati perintah dari sang pemegang kekuasaan, yang tentunya memiliki pemikiran berlangkah-langkah lebih maju dibandingkan kita. Walau tak bisa dipungkiri pula, sebagian pelajar/mahasiswa mungkin ada yang merasa senang dengan kejadian ini. Bukan senang karena virus yang telah merambah ke berbagai wilayah tentunya, melainkan bisa berkumpulnya mereka dengan keluarga dan yang terpenting bisa rehat sejenak dari berbagai kegiatan akademik dan non-akademik di sekolah/kampus. Namaku Irfan, seorang mahasiswa semester 4 dari departemen Teknik Mesin dan Biosistem, IPB University. Sejauh ini, aku termasuk orang yang senang atas segala kejadian yang terjadi belakangan ini.

    Aku mulai merapikan kamar kosku setelah mendapat kabar bahagia bahwa UTS akan diundur dan seluruh mahasiswa diwajibkan pulang ke kampung halaman masing-masing. Tumpukan baju kotor masih terlihat menggunung di sudut kamarku. Aku memang jarang memberesihkan kamarku ini. Lagipula, siapa juga mahasiswa teknik yang senang membersihkan kamarnya, terlebih lagi di minggu UTS seperti ini. Pesan singkat dari orangtua juga kerap muncul di handphone ku semenjak wabah ini mencuat. Entah itu menanyakan kabar, atau hanya hendak memastikan bahwa buah hati mereka dalam keadaan baik-baik saja. Aku cukup beruntung karena rumahku berada di Jakarta. Sehingga tidak perlu memesan tiket pesawat atau bus seperti teman-temanku yang lain. Cukup menggunakan sepeda motor untuk bisa pulang. Keesokan paginya, aku mengecek kembali semua sudut kamar,  memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal. Tidak lupa aku mengisi bensin dan sarapan terlebih dahulu sebelum menempuh perjalanan yang cukup jauh ini. Tersimpan sedikit perasaan sedih ketika hendak meninggalkan kamar kos yang sudah ku lunasi tagihannya untuk beberapa bulan kedepan ini. Namun perasaan tersebut dengan mudah lenyap membayangkan kerinduan untuk pulang yang akan segera terbayarkan. Aku langsung bergegas mengunci pintu kamar, memindahkan barang bawaan ke atas motor, lalu berangkat menuju rumah. Suka tak suka, mau tak mau, kita harus menaati perintah dari sang pemegang kekuasaan.

    Semakin hari kondisi wabah ini semakin memburuk. Bahkan beberapa hari setelah kepulanganku, pemerintah mengambil langkah tambahan dengan mewajibkan masyarakat melakukan social distancing dan isolasi mandiri di rumah. Sebenarnya Banyak hal yang aku rencanakan untuk mengisi masa social distancing ini. Belajar mendesain, berolahraga, membaca banyak buku, hingga belajar alat musik. Tetapi sebelum memulai itu semua aku harus menyelesaikan kewajiban yang seharusnya sudah selesai seminggu lalu, ya, UTS. Mengerjakan Ujian dengan sistem daring memang banyak sekali kendalanya. Mulai dari sistem yang kurang siap, koneksi internet yang terkadang terganggu, juga euforia yang berbeda dengan ujian tatap muka. Namun bukan mahasiswa namanya jika masalah kecil seperti ini saja dijadikan penghambat. Ujian pun sudah terlewati dan aku masih memiliki waktu satu minggu sebelum perkuliahan online dilakukan. Tentu saja waktu ini aku manfaatkan untuk mulai menjalankan berbagai kegiatan yang sebelumnya sudah direncanakan.

    Hari ketiga setelah UTS selesai. Masih ada beberapa hari lagi sebelum perkuliahan online dimulai. Pagi ini aktivitas ku buka dengan sarapan dan membaca buku milik Tere Liye beberapa halaman. Akhir-akhir ini aku sedang senang membaca beberapa buku pria bernama asli Darwis ini. Selain alur cerita yang menarik, Tere Liye mampu membawa kita masuk ke dalam cerita yang ia bawa melalui kalimat-kalimat yang seakan dapat berbicara. Setelah itu, sekitar pukul Sembilan, Bunda menyuruhku untuk berjemur. Sejak wabah Corona ini merebak, Bunda seakan menjadi dokter yang sangat mengerti sekali masalah kesehatan. Bunda banyak menyuruhku melakukan berbagai macam hal yang ia anggap dapat memerkecil resiko terjangkit virus Corona. Walau terkadang menurutku ada hal yang lucu dan tak masuk akal, namun aku mengerti yang Bunda inginkan hanyalah keselamatan bagi putranya. Karena menurutku saran Bunda yang satu ini masuk akal, aku akhirnya naik ke lantai atas menuju balkon. Mengambil sebuah kursi dari kamar, lantas berjemur.

    Aku menatap langit Jakarta pagi itu. Cuacanya bersahabat, dengan langit berwarna biru dihiasi awan yang berjalan beriringan, menambah indah suasana pagi itu. Sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini, terlebih lagi ketika di bogor, yang hampir setiap harinya dihantui oleh hujan yang kerap turun tanpa permisi. Pandangankan teralihkan oleh seorang tukang sampah yang sedang menarik gerobak yang tampak sudah usang. Aku jadi ingat dua hari lalu tepat setelah UTS berakhir, aku menemani Bunda berbelanja ke pasar dekat rumah. Tampak kegiatan di pasar tidak jauh berubah. Ibu-ibu tua penjual sayur tetap menjajakan dagangannya di atas sebuah tikar, juga tukang ikan yang tetap memotong-memotong ikan dengan pisau tumpulnya. Mungkin bedanya sekarang para penjual dan pengunjung pasar banyak yang mengenakan masker. Namun masker yang digunakan ibu penjual sayur di depanku tampak berbeda. Warnanya memudar, tampak juga masker itu sudah kendur, mungkin sudah dipakai berhari-hari tanpa diganti. Memang, imbauan pemerintah untuk melakukan social distancing tidaklah main-main. Tetapi bagi orang-orang seperti ibu penjual sayur ini, risiko dari tetap berinteraksinya mereka dengan banyak orang harus dikesampingkan demi dapat memenuhi berbagai kebutuhan dasar. Sudah sepatutnya kita yang tidak memiliki kepentingan mendesak, mengerti kondisi mereka dengan tetap berada di rumah untuk meminimalisir peneybaran virus ini.

    Terik matahari saat tengah hari seketika membuyarkan lamunanku.  Tidak terasa waktu berjemurku habis hanya untuk melamun. Aku bahkan hamper lupa ada rapat online yang sudah dijadwalkan pada pukul sebelas. Aku bergegas berdiri, mengembalikan kursi, segera menuju kamar. Di tengah kondisi wabah seperti sekarang, kewajiban untuk melaksanakan tugas-tugas organisasi dan juga Proker harus tetap menajdi prioritas. Setelah rapat selesai, aku bergegas turun ke bawah menuju meja makan.Seperti biasa, saat jam makan siang seperti ini Bunda selalu sibuk dengan masakannya di dapur. Aku yang sudah kelaparan karena belum sarapan langsung menarik kursi lalu menyantap makanan yang sebagian sudah tersedia di atas meja. Makanan buatan Bunda enak seperti biasanya. Namun ada yang berbeda dari makan siang kali ini. Lamunanku ketika berjemur terus berkecamuk di kepala.
           


           





           

Comments

Popular Posts