Fanatisme Politik
(source: www.nytimes.com)
Pesta demokrasi terbesar di Indonesia kini telah usai. Ketegangan antara kedua kubu sudah mulai mereda. Tensi politik nasional juga perlahan mulai diturunkan. Bahkan, kedua pejabat yang terlibat dalam pertarungan sudah menggelar temu perdana pasca pengesahan hasil. Lantas, jika kepalanya sudah berdamai, mengapa anggota tubuh lain, atau bahkan yang bukan merupakan anggota tubuh masih terus menyalakan api?
Berbagai sebaran kebencian di dunia nyata maupun di dunia maya masih terus terjadi, seakan tak terima dan berdalih kebenaran telah dikhianati. Hal seperti ini tidak hanya terjadi ketika Pilpres, melainkan hampir dalam setiap perhelatan yang berbau pemilihan dan proses yang menyertainya (post ini sudah ditulis lama dan ternyata sekarang salah satunya sudah menjadi menteri kabinet presiden terpilih).
Mendukung seseorang yang menurut kita baik dan dapat menebarkan kebaikan adalah hal yang benar. Namun, dalam politik, orang cenderung lebih senang menggarisbawahi kekurangan dan juga hal buruk. Sedikit saja kesalahan yang dilakukan oleh politisi yang bukan merupakan pillihan mereka pasti akan terus diungkit dan dibesar-besarkan, sedangkan kesalahan yang dilakukan oleh politisi pilihan mereka akan dianggap "khilaf" dan dilupakan dalam sekejap. Wajar saja, mungkin ini karena kebanyakan masyarakat indonesia memilih seorang politisi bukan karena kebijakan-kebijakan yang dibuatnya, melainkan karena "kebaikan" yang seolah mereka tunjukkan ketika masa kampanye. Tipe pemilih seperti inilah yang tidak akan sadar bila politisi pilihan mereka nantinya membuat kebijakan yang nyeleneh. Mereka pasti mencoba mencari pembelaan dan berkata: "Ihhhh, kebijakannya bagus kok, dia kan orang baik, ga mungkin lah buat kebijakan yang gak berpihak kepada rakyat." Mereka inilah yang sudah terjebak dalam fanatisme politik.
Fanatisme politik tumbuh subur di Indonesia, khususnya di masa Pemilu. Kurangnya pemahaman tentang politik dan kurang objektifnya masyarakat kita dalam melihat suatu masalah menjadi salah dua alasannya. Fanatisme yang berlebihan akan membuat orang menutup mata dan telinga dari dunia luar, dan menganggap kebenaran hanya mutlak milik kelompoknya. Lebih ekstrem lagi, mereka yang sudah fanatik pada seorang sosok akan melakukan hal apapun untuk mempertahankan kepercayaannya. Mereka yang sudah tidak bisa berpikir rasional dapat dimanfaatkan dan diprovokasi untuk kepentingan politik yang bersangkutan dan tentunya membuat iklim politik di negara kita semakin memburuk.
Sudah saatnya kita mengubah pola pikir kita dan mewajarkan perbedaan pandangan dalam berpolitik. Mencoba mendengarkan mereka yang memiliki pendapat berbeda ketimbang berantem dan saling menyalahkan. Melihat sisi baik dari kelompok yang bersebrangan dari kita ketimbang menanamkan dogma kebencian. Serta yang paling penting, terus mengawal secara objektif pemerintahan yang berjalan sekarang.
" In a democracy, people will get the leader they deserve".



Comments
Post a Comment