Words to remember



Tidak terasa dua hari lagi sudah memasuki semester 8 kuliah. Meskipun sudah beberapa minggu gue mencuri start untuk penelitian, tetap saja rasanya masih terlambat dan selalu ada rasa ingin memburu-burukan segala hal. Jalanan Dramaga akhir-akhir ini menjadi macet. Banyak orang tua mengantarkan putra putri mereka ke kost/kontrakan-nya dengan harapan anak-anak mereka kelak menjadi orang yang sukses dan membanggakan. Entah apakah keputusan rektor untuk melakukan pembelajaran tatap muka merupakan keputusan yang baik atau tidak, namun nampaknya banyak sekali para mahasiswa angkatan baru yang masih bingung dan belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk membiasakan diri lagi. Bahkan mungkin para mahasiswa baru belum memiliki teman sama sekali karena memang belum pernah berinteraksi secara langsung.

Berhubung malam ini gue cukup gabut, gue mencoba iseng untuk nulis lagi. Kali ini gue cuma pengen bercerita singkat aja dan mengabadikan momen-momen yang gue lewati di hidup ini. Gue bukan orang yang mengalimi atau orang yang quotes banget, tapi terkadang tulisan-tulisan ini memang relate di kehidupan gue.

If it scares you, it might be a good thing to try.

Dalam hidup pasti kita tidak luput dari yang namanya masalah. Mulai dari masalah kecil yang bagai angin lalu, sampai masalah besar yang membutuhkan bertahun-tahun untuk berlalu. Selain masalah, sering kali kita juga dihadapkan pada pilihan yang sulit untuk diputuskan dan cenderung harus kita terima mau tak mau. Minggu ini gue diamanahkan untuk menjadi manajer greenhouse yang akan gue pakai untuk penelitian. Tentunya jika bisa memilih gue tidak akan mengambil amanah itu, karena gue ga ngerti sama sekali apa yang harus gue lakukan dan pengalaman gue juga belum ada sama sekali. Namun, mau tak mau gue harus mengambil amanah itu karena ini merupakan penelitian yang akan gue jalani dan gue harus tau secara menyeluruh setiap aspek yang akan gue lakukan nantinya. Setelah gue pikir, memang gue terlalu senang berada di zona nyaman. Gue lebih suka main aman dan mengikuti perintah orang aja dibanding gue yang coba mengaturnya. Teruntuk kalian yang mungkin mengalami hal serupa, kalian coba tanyakan kepada diri kalian "apa yang membuat kalian tidak mau menerima suatu amanah atau mencoba hal baru yang belum pernah kalian coba?" Jika jawabannya hanya karena "takut" atau "belom pernah nyoba", maka saran gue kalian coba dulu mengambil kesempatan tersebut bagaimanapun hasilnya nanti, yang penting harus tetap ada niat untuk mempelajari dan bertanggung jawab atas hal tersebut.

Greenhouse yang gue gunakan yang kanan

"The right words from the right person at the right moment can have a truly profound impact on our lives"

Sebagai manusia, kita pasti membutuhkan seseorang yang dapat mendengarkan kita. Terkadang kita tidak ingin diberi masukan atau nasehat apapun, melainkan hanya ingin didengarkan keluh kesahnya. Di usia sekarang ini, rasanya sulit jika menceritakan berbagai permasalahan yang kita alami kepada orang tua, karena kita merasa sudah harus bisa mandiri dan menyelesaikan masalah-masalah kita sendiri, ditambah lagi orang tua juga memiliki beban pikiran tersendiri. Umumnya di usia seperti sekarang kita memiliki seseorang sebagai tempat bercerita dan berkeluh kesah, bisa sahabat atau pasangan. Namun yang perlu diingat, peran sahabat/pasangan tersebut harus diisi oleh orang yang tepat dan bisa mengarahkan hidup kita ke arah yang lebih baik. Hal ini bak pisau bermata dua, apabila kita menemukan orang yang tepat, kita dapat berkembang dan memiliki support system yang menjadi api semanagat. Namun sebaliknya, jika peran ini diisi oleh orang yang kurang tepat, malah dapat menghambat kita untuk berkembang karena cenderung hanya menambah beban pikiran dan kurang memahami kita. Karena pada akhirnya, hanya diri kita sendiri yang paling memahami kondisi kita. Jika kita menemukan seorang yang bisa menerima kita dan tidak egois menitikberatkan pada dirinya, kita beruntung, namun apabila tidak juga tidak apa-apa. Karena pada akhirnya kita memang harus berdiri di atas kaki sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Wanting to be someone else is waste of the person you are.

Terkadang, ketika kita melihat kehidupan orang lain, rasanya mereka sudah melangkah sangat jauh dan kita tertinggal. Kita juga merasa kehidupan kita tidak seberuntung orang lain. Ditambah lagi peran sosial media yang dapat membuat kehidupan orang lain terlihat semenyenangkan itu, padahal realitanya belum tentu sama. Hal ini juga terkadang membuat kita iri hati dan tidak fokus pada apa yang kita kerjakan, dan sering kali malah membuat alasan seperti "ahh dia kan enak ada privilege, sedangkan gue engga," atau "yaa dia kan enak kuliahnya jurusan dan di univ A, jadi dapet kerjanya gampang" dan lain sebagainya. Padahal seharusnya menjadikan pencapaian orang lain sebagai motivasi untuk mencapai lebih dari mereka. Gue juga merasakan hal seperti ini ketika melihat teman-teman gue yang mendapatkan topik skripsi yang menurut gue "gampang." Padahal sebenarnya tidak ada topik yang gampang, kita hanya iri melihat topik teman kita dan menganggap topik kita lebih susah dari mereka. Sekarang gue juga udah sadar, yang gue harusnya lakukan adalah tetap fokus dan mengerjakran topik yang sudah gue tentukan, bukannya terus membandingkan dan menyalahkan keadaan. Karena apapun yang terjadi pada kita adalah yang terbaik untuk kita, dan yang terjadi kepada orang lain juga merupakan yang terbaik bagi orang itu. 

Leap of faith yes, but only after reflection.

Terakhir, gue mau mencoba merangkum hal yang sudah gue lalu belakangan ini. Kita harus mencoba mengambil risiko dan berani keluar dari zona nyaman, karena pasti banyak sekali pelajaran yang kita dapat ketika kita mencoba melakukan hal yang kita takutkan. Kita juga harus berdamai dengan diri sendiri serta sebisa mungkin tidak bergantung pada orang lain dalam urusan apapun, kecuali kita menemukan orang yang tepat dan sejalan dengan apa yang kita inginkan. Jangan iri dan terpengaruh dengan keberhasilan orang lain, melainkan fokus pada pencapaian kita sendiri karena kita tidak tau apa yang orang tersebut sudah lalui. Jangan lupa juga untuk selalu menyerahkan apapun yang terjadi kepada Tuhan, tentunya setelah melakukan ikhtiar. Karena semua hal yang terjadi tidak lepas dari campur tangan Tuhan dan kita hanya bisa merencanakan. Sebagai penutup, ada quotes yang menurut gue cukup menarik yang bisa kalian lihat di bawah ini. Hal kecil dapat menjadi besar dan dapat menjadi jati diri kita. Maka berhati-hatilah dalam berbuat sesuatu. 

Watch your thoughts, they become your words, watch your words, they become your action, watch your actions, they become your habit, watch your habit, they become your character.

Comments

Popular Posts