Internship Journey at Unilever Indonesia

  

Kamis, 8 September 2022. Saat itu gue baru saja sampai rumah setelah perjalanan cukup panjang dari kampus untuk mengurus Surat Keterangan Lulus (SKL). Setelah berbaring di kasur sejenak, entah mengapa jemari gue mengarahkan untuk membuka aplikasi email yang ada di handphone, padahal gue hampir ga pernah membuka email kecuali memang ada hal yang ditunggu atau dibutuhkan. Kondisi saat itu gue baru selesai sidang dan sedang menjalani program Magang Kampus Merdeka di PT. Shipper. Ketika membuka aplikasi email, ada sebuah pesan samar-samar bertuliskan Unilever dan nyaris terlewat karena sudah tertimbun dengan beberapa pesan lainnya. 


(Invitation untuk FGD & Interview)

Gue terdiam sejenak. Berpikir. Gue teringat kalau beberapa bulan lalu pernah iseng mendaftar ULIP (Unilever Leadership Internship Program) karena posternya menarik dan sering muncul di Instagram. Antara senang dan bingung, tapi berhubung gue udah punya kerjaan dan juga ketika daftar ga ada niat karena sadar kompetensi yang gue miliki, jadi gue gas ajaa, kalau kata anak jaman sekarang "nothing to lose" (sejujurnya waktu itu beneran mikir untuk ga ikut karena kondisi lagi capek banget dan bener-bener ga yakin kalau mampu untuk lolos). Lucunya, alih-alih mempersiapkan untuk FGD dan Interview, malam harinya gue malah main ke rumah temen di Bintaro yang menyebabkan gue baru mempersiapkan h-2 jam tes, dan waktu mendengarkan khutbah ketika shalat Jumat gue maksimalkan untuk menghapalkan beberapa script yang sudah gue buat sebelumnya.

FGD pun dimulai. "Mampus gue," itulah kata pertama yang keluar ketika melihat study case nya. Gue ga pernah mengikuti FGD sebelumnya, apalagi ini pakai bahasa inggris dan temanya supply chain. Akhirnya gue mencoba tetap tenang walaupun otak isinya kosong. Opini demi opini gue lontarkan yang sebenernya gue pun ga tau ngomong apa karena kaya ga ada poin yang bisa diambil. Beberapa orang sampai menjelaskan perhitungan efisiensi mesin serta pekerja, sedangkan gue cuma memberi saran-saran dari aspek manajerial. Fast Forward, akhirnya sesi FGD selesai dan hanya ada satu orang yang tersisih, yang artinya 4 orang lainnya lanjut ke tahap interview

Ketika tahap interview, gue sama sekali ga menyangka kalau pertanyaannya benar-benar ga sulit, yaitu hanya pertanyaan terkait tantangan terberat yang pernah dihadapi ketika kuliah dan juga mengapa anak pertanian membuat skripsi berbau teknologi. Ketika di kantor gue juga pernah iseng bertanya ke Mas Ferrizal Rinaldy Ramadiansyah terkait interview ULIP saat itu "Mas, kenapa waktu itu pertanyaan interview nya cuma sedikit dan cenderung gampang?" Tanya gue. "Yaa buat apa juga Fan nanya yang susah-susah, gue tau lah kapasitas anak magang, masa mau dikasih pertanyaan teknis," Ujar mas Icang.  Keren ya jawaban Mas Icang, hehehe. Btw mas Icang itu manajer gue. Ketika interview ini, ada juga satu pertanyaan nyentrik dari Kak Yofang: "Kalau ada Jerapah tingginya 1 m, tetapi dia mau makan dari pohon yang tingginya 1,5 m, bagaimana caranya Jerapah itu makan?" Gue berpikir sejenak, apakah ini semacam pertanyaan jebakan seperti yang gue sering dengar ketika kecil "Gimana cara masukin gajah ke dalam kulkas?" "Ambil kulkasnya, masukin gajahnya." Tetapi, gue berpikir kalau ini adalah interview kerja, mana mungkin dikasih tebak-tebakan bocil. Akhirnya gue menjawab "Tergantung, Kak. Pohon itu kan terdiri atas dahan, dan umumnya dahan itu bisa tumbuh sampai ke tengah badan pohon, jadi kalau ternyata dahan tersebut bisa digapai oleh si jerapah, maka problem solved." Long story short, interview selesai dan entah kenapa gue percaya diri kalau akan diterima. Berbalik 180 derajat ya, awalnya ga pede banget bisa lolos, tapi ketika menyelesaikan semua tahapannya malah jadi yakin. Mungkin efek dari nothing to lose tadi juga yang membuat gue lebih lepas ketika menjalani serangkaian tes tersebut.

Beberapa hari setelahnya, tepatnya hari Senin, 12 September 2022, gue melakukan follow-up ke HR untuk menanyakan hasil rekrutmen. Yaa udah tau lah ya hasilnya, karena kalau hasilnya ga diterima ya ga bakal gue buat post ini. Sebenernya hari itu belum dibilang secara resmi kalau gue diterima, karena gue masih harus melalui satu proses yaitu MCU. Sooo, after MCU yang menyenangkan, akhirnya pada Kamis, 15 September 2022, gue resmi dinyatakan diterima di perusahaan ini. Selanjutnya, gue menghubungi mas Icang dan diarahkan untuk menghubungi Kak Maria Dias Ika Salama (mentor gue). Setelah itu, gue diarahkan untuk belajar dari Folder Final Data Collection yang berisikan video induction dari Kak Cynthia Zhang (ex-Manajer sebelum mas Icang). With that being said, the journey starts.

(Ketegangan ketika FGD)

(Bukti keterima ygy)

16 September 2022, hari pertama gue magang. Hari ini dihabiskan untuk menonton video Induction yang diberikan oleh Kak Dias, dan gue baru disuruh datang ke kantor di minggu berikutnya.
Selasa, 20 September 2022, hari pertama gue menginjakkan kaki di kantor Unilever. Ketika masih berada di kereta, gue mendapat chat dari Ahmad Falah Adikara, seorang intern juga yang ternyata satu tim dengan gue, walaupun beda mentor. Kita pun akhirnya bertemu di lantai 5, lantai di mana tim kami bermukim. Karena ini kali pertama kami berdua ke kantor, jadi kita menunggu untuk bertemu dengan mentor kita masing-masing untuk mendapatkan instruksi. Selang beberapa lama, Falah mengajak untuk berjalan untuk bertemu Indra Yunanto, yang merupakan OTE di tim nya Falah. Ternyata, di sana gue juga bertemu dengan Kak Dias. Kami diajak berkeliling kantor oleh Kak Dias, dan juga diajak berkenalan dengan beberapa orang yang bermukim di dekat kami. Berhubung ini hari pertama, pastinya gue ga langsung disuruh kerja. Hari ini diisi dengan penjelasan oleh Kak Dias terkait jobdesk yang nanti harus gue tunaikan. Setelah itu, gue dan Falah mengikuti mini training tentang TPM yang diadakan oleh Kak Yofang Puteri, yang merupakan mentor dari Falah, yang juga merupakan 1 dari 4 WL 1 yang terdapat di tim gue. Selain Kak Dias dan Kak Yofang, ada Mas Aldrian Eka Putera dan juga Pak Muhammad Dian Irawan yang menjadi pelengkap tim kami. 

(First day's photo)

Hari demi hari sudah gue lalui, gue sudah mulai mengerti secara garis besar apa yang akan gue kerjakan ke depannya. Untungnya, selain punya mentor, gue juga memiliki seorang peer yang bernama Salsha Niakatri. Namun ketika hari-hari awal gue di kantor, Salsha masih berada di Jogja karena ada acara pernikahan kakaknya. Meski begitu, gue tetap diajarkan untuk langsung praktek melakukan tugas-tugas simple agar terbiasa dan mengerti. Setelah beberapa hari di kantor, gue baru menyadari ternyata selain gue dan Falah, ada satu anak intern lagi, yaitu Early Lula Afif. Sepertinya sudah banyak ya nama orang yang gue sebut dalam cerita ini. Tetapi, itu belum semua, karena masih ada satu anggota tim lagi yang baru bergabung sebulan kemudian yaitu Raihana Syahrani Citra Devi. Beginilah kira-kira sturktur organisasi di tim kami: 


Sebagai pengalaman kerja pertama bagi gue, magang di sini ibarat bocil yang mencoba berenang di kolam 2 meter (yaa ada aja sih bocil yang bisa ngapung, tapi lu tau lah maksudnya). Buanyaakk sekali hal-hal yang gue pelajarin dan baru gue tau ketika berada di sini, mulai dari menulis e-mail, berkomunikasi, skill membuat presentasi, dan masih banyak lagi. Beruntungnya juga, gue memiliki lingkungan dan tim yang sangat suportif. Kak Dias dan Salsha yang sangat baik dalam membimbing dan sangat discussable, juga teman keseluruhan tim yang asyik nan luchu sehingga hari-hari bekerja terasa menyenangkan. Sebenarnya kalau dipikir-pikir unik juga sih, memiliki tim segini besarnya dan diisi oleh orang-orang yang sebaya. Karena tidak sedikit tim yang memiliki anggota sedikit, bahkan ada yang hanya diisi oleh manager dan anak intern-nya. Di sini gue juga belajar untuk becanda becanda tapi tetap profesional dalam bekerja. Walaupun sebenarnya pekerjaan gue ga terlalu banyak dan ribet, tapi gue sangat senang bisa belajar untuk melakukan hal-hal yang belum pernah gue lakukan dan cukup membuka mata gue tentang dunia kerja. Ketika gue bilang lingkungan kerja yang suportif, itu ga berlaku hanya di tim inti kami, tapi gue juga merasakan ketika bekerja dengan tim global yang mayoritas dari India. Gue juga mendapatkan banyak teman bule baru (orang india disebut bule juga ga sih?) dan sering bertukar cerita dengan salah satu orang yaitu Choudhari Sumit hahaha.

 
Full Team (exc kakak2)

Mendapatkan kesempatan untuk magang di Unilever Indonesia merupakan pengalaman tak terlupakan. Tidak pernah terbesit di pikiran gue untuk bisa bekerja di perusahaan ini. Tapi yaa begitulah hidup kan? terkadang memang se-random itu. Kita ga tau akan dibawa ke mana dan yang bisa kita lakuin hanyalah mencoba bertahan di dalam arus kehidupan. Gue inget dulu ketika masih di kontrakan dan mengerjakan skripsi, salah satu teman kontrakan gue sering banget cerita seberapa inginnya dia untuk bekerja di Unilever. Saking seringnya, suatu saat gue iseng nyeletuk "Gue juga mau dong, Mi. Lu nanti divisi sales, gue IT ya," Ucap gue asal. Ternyata beberapa bulan kemudian tercapai untuk bekerja di sini, walaupun bukan divisi yang waktu itu gue asal lontarkan. Yaa tapi kembali lagi, begitu lah hidup, kadang lu dapet semua yang lu doakan, kadang hanya sebagiannya, kadang ga sama sekali. Akhir kata, seperti yang tadi gue bilang, ini merupakan pengalaman magang pertama gue. Perjalanan masih sangattttttt panjang, gue belum merasakan stressnya bekerja, pusingnya dikejar deadline, dan lainnya. Kalau kata mas Icang sih, kita anak intern belum beneran kerja. Semoga arus selanjutnya bisa membawa gue ke tempat yang lebih baik.

Air di lautan butuh puluhan ribu tahun untuk mengikis tanah demi membuat tebing yang indah, awan terbentuk dengan sabar menunggu air dari tanah menguap. Alam semesta ini tidak pernah terburu-buru, tapi semuanya tercapai ))













Comments

Popular Posts