Apa ya
Terima saja apa yang sudah tuhan berikan kepadamu, karena ia pasti tau yang terbaik buat mu.
Beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2019, gue pernah membuat tulisan dimana gue menyatakan ketidaksetujuan dengan kalimat di atas. Gue berpendapat bahwa kalimat di atas adalah bentuk kepasrahan dan cenderung membuat kita tidak mau berjuang untuk mendapatkan apa yang benar-benar kita mau. As time goes by, gue mulai menyadari esensi dari kalimat ini. Manusia boleh berencana dan berusaha, tapi untuk hasil tidak ada yang bisa menjamin. Gue juga sudah mengalami beberapa hal dimana gue rasa usaha gue tidak terlalu maksimal, tetapi hasil yang gue dapatkan sangat maksimal. Pun, gue pernah merasakan dimana usaha yang gue lakukan sudah sangat maksimal, tapi hasil yang didapat tidak sesuai ekspektasi. Oleh karena itu, kalimat ini sangat bisa untuk dimaknai. Dengan catatan, kalian sudah berusaha terlebih dahulu.
Apakah kalian benar-benar tulus mencintai orang tua atau pasangan kalian?
Mayoritas dari kita pasti akan menjawab tulus. Tapi coba kalian pikir, bukankah kalian mencintai orang tua kalian karena mereka selalu berbuat baik kepada kalian, hampir selalu menuruti kemauan kalian, mengerti kondisi kalian? Apakah kalian akan tetap sayang kepada orang tua kalian apabila mereka berlaku jahat kepada kalian atau tidak pernah memenuhi kebutuhan lahir dan batin kalian? Begitu juga dengan pasangan, kalian mencintainya karena ada timbal balik, ada effort, ada kemauan kalian yang dipenuhi oleh orang tersebut. Kalau untuk orang tua mungkin ada faktor "x" yaitu hubungan darah, tapi untuk pasangan, rasanya memang tulus benar dengan lagunya "Jangan cintai aku apa adanya."
Omongan dan masukan dari orang lain itu bias
Pernahkah kalian bertukar cerita atau dinasihati oleh orang tua, atau bahkan kakek-nenek kalian? Atau sekedar berbincang dengan orang yang umurnya jauh di atas kalian. Gue sering, dan yang bisa gue simpulkan adalah: sudut pandang mereka unik. Mayoritas orang sepuh memiliki prinsip "Give it all to god or humanity." Nasihatnya ga jauh-jauh dari beramal, materi ga dibawa mati, dan ibadah. Well, ga salah sama sekali memang. Tetapi, sebagai anak muda, pasti pikiran kita ga sesempit itu. Banyak hal lain yang kita pikirin. Kalau boleh jujur, gue bisa bilang ya orang tua ngomong kaya gitu karena memang ga ada lagi yang mau dikejar sama mereka, istilahnya kalau di bola udah injury time.
Sebaliknya, jika kalian bertukar cerita dengan anak kecil, kalian pasti akan mendengar berbagai harapan-harapan. "Aku ingin jadi presiden," "Aku ingin jadi orang sukses nanti kalau udah besar," "Kalau aku ingin bisa beli tiga mobil kalau udah gede." Kalau orang tua diibaratkan sudah memasuki masa injury time, maka anak-anak ini ibarat pemain yang baru masuk lapangan. Semringah, semangatnya membludak. Apa respon kalian ketika mendengar hal-hal tersebut? Sepertinya ada dua ya, either kalian akan bilang "Wahh, keren. Semangat ya untuk mencapai cita-citanya," atau "Aduhh dek, hidup tidak akan berjalan semulus itu, gue juga dulu punya banyak mimpi tapi nyatanya pas udah gede gue ga muluk-muluk, cuma pengen bahagia aja."
Intinya, dari dua contoh ini, tidak ada sudut pandang yang salah. Kita juga bisa mengambil pelajaran from both orang tua dan anak-anak. Kalau gue posisikan diri gue sebagai anak muda, gue bisa mengambil semangat dari anak-anak, dan mengambil pengalaman hidup dari orang tua. Karena masa muda merupakan masa yang dipenuhi kebimbangan, dengan memiliki banyak sudut pandang bisa membantu kita dalam mengambil keputusan hidup, tentunya dengan tambahan pertimbangan dari diri masing-masing agar tidak menjadi bias.
Bagi kalian yang muslim, pernahkah mendengar kailmat bahwa Nabi Muhammad SAW sudah dijamin masuk surga, bahkan namanya sudah disandingkan dengan lafaz Allah jauh sebelum nabi Muhammad dilahirkan.
Pernahkah kalian berpikir kenapa hal ini dapat terjadi? Maksud gue, enak banget dong Nabi Muhammad belum lahir aja udah dijamin segalanya. Kenapa kita nggak diperlakukan seperti itu juga? Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang "wow." Buat kalian yang beragama Islam, mungkin sudah tau kalau ada yang namanya Lauhul Mahfudz yang berisikan seluruh takdir kalian yang sudah dibuat jauh sebelum kalian dilahirkan ke dunia. Untuk kasus Nabi Muhammad ini, hanya ada dua kemungkinan jawaban: 1.) Allah tau nantinya akan lahir seorang yang se-mulia dan se-agung itu, sehingga memang sudah disediakan tempat khusus 2.) Allah yang membuat Nabi Muhammad se-mulia dan se-agung itu untuk dijadikan contoh kepada umat manusia. Kembali kepada kalian lebih percaya yang mana. Kalau gue pribadi lebih setuju dengan poin nomor 1. Perumpamaan ini juga dapat digunakan untuk menjawab "Kenapa ada orang yang terlahir kaya, kenapa ada orang yang terlahir ganteng, dll" Mungkin hanya ada sedikit perbedaan variabel di kedua poin tersebut, tetapi intinya sama. Coba kalian jawab sendiri.
Cursing
Cursing doesn't make you look cool, nor does it make you look more dominant.
Dewasa ini, mengumpat tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Mulai dari anak-anak, hingga orang yang sudah berumur sering sekali mengumpat. Memang, kebanyakan dari kita mengumpat hanya untuk mengeluarkan emosi dan tidak bermaksud untuk menghina seseorang—walaupun menurut gue tetap kurang etis aja apalagi kalau "kata-katanya" sangat kasar. Tetapi banyak orang yang mengumpat dengan tujuan untuk menunjukkan dominasi atau sekadar ingin terlihat keren di lingkungannya. Tentunya gue bukan orang suci yang anti dan ga pernah mengumpat, tetapi memang jarang dan selalu coba gue kendalikan. I dont have any beef with someone who curses a lot as well, because it's none of my business. Tetapi kadang lebih ke sebel aja kaya "apasih lu?!"
This post will be updated following the writer's mood
Even the person who looks like they have it all is living in a hell of his own. We all face challenges that others can't imagine. Remember that appearances or everything shared on social media aren't everything.



Comments
Post a Comment