Bersikap Bodo Amat

    

Setiap harinya otak manusia selalu bekerja memproses segala pikiran kita, entah itu pikiran  penting  yang berkaitan dengan kerjaan atau sekolah, ataupun sekadar pikiran "Kenapa namanya Starbucks, bukan Moonbucks?" Entah bagaimana otak kita tidak pernah lelah mencerna semua itu. Atau mungkin sebenarnya dia lelah, tapi tidak bisa mengungkapkannya saja. Maka dari itu, ada baiknya kita membantu meringankan beban salah satu organ tubuh yang paling berjasa bagi kita itu dengan cara mengurangi pikiran-pikiran yang sebenarnya bisa kita kendalikan untuk tidak dipikirkan dengan cara bersikap bodo amat. Sepertinya satu atau dua tahun lalu ada sebuah buku yang membahas hal ini dengan judul "Seni Untuk Bersikap Bodo Amat." Jujur aja gue ga baca buku itu karena gue rasa hal seperti itu alamiah dan ga perlu diajarin. 

Bersikap bodo amat sebenarnya bukan hal yang baru bagi kita, setiap hari pasti ada perilaku bodo amat yang kita lakukan. Misalnya ketika mantan ngechat apa kabar, atau ketika atasan menanyakan terkait tugas yang ia berikan. Dari dua contoh ini, pasti kalian bisa bedain mana yang memang seharusnya kita bodo amat-in dan mana yang tidak. Sering kali kita salah mengoptimalkan kesempatan nge-bodo-amat-in sesuatu. Mengapa gue bilang salah mengoptimalkan? karena menurut gue nge-bodo-amat-in sesuatu itu ada jatah dan kapasitasnya di pikiran. Gak mungkin kan lu bisa bodo amat kepada apapun, siapapun, dalam satu hari penuh? (Bisa aja sih kalau misalnya kita lagi sakit ataupun kalau mungkin lu punya penyakit mental, but its special case la)

Sebelum lebih jauh, gue mau mengundang sebuah variabel baru dalam topik ini, yaitu kepikiran. Gue mengasumsikan kepikiran sebagai antonim dari bodo amat. Karena ketika lu menerima sebuah informasi, pasti dua opsi inilah yang akan muncul. Misalnya saja ketika ada berita "Aldi Taher mengadakan konser dengan tiket termahal senilai 100 juta." Sebagian orang pasti bakal mikir "Kok bisa ya ada orang sepede dia, TAPI KOK BISA YA TIKETNYA ABIS." Walaupun gue yakin sebagian besarnya lebih ke arah bodo amat sih. Tapi anggaplah ada case lain, misalnya lu baru ganti model rambut dan tiba-tiba teman lu yang ga akrab-akrab amat bilang "Kayanya rambut lu bagusan yang kemarin deh." Jlebb, gue yakin ga semua orang bisa gampang untutk bodo amat. Kalau yang komen temen dekat lu mungkin lu bakal biasa aja, tapi kalau ini gue bisa jamin >70% dari kalian bakal kepikiran. 

Melanjutkan kalimat terakhir di paragraf kedua, dengan datangnya variabel kepikiran berarti kita juga tidak bisa untuk kepikiran kepada apapun, siapapun, dalam satu hari penuh (Bisa bang kalau lagi jatuh cinta, kan pikirannya berbunga-bunga dan diisi oleh si pasangan itu doang). ETT DAH bisa aje lu. Poinnya adalah, kita harus bisa menyeimbangkan antara kepikiran dan bodo amat, walaupun menurut gue pribadi kita lebih gampang untuk kepikiran tanpa kita sadari. Gue juga sebenarnya masih mencari tau apakah pikiran kita bisa ada di dalam neutral state, dalam artian ga kepikiran dan juga ga bodo amat. Tapi sejauh ini gue rasa itu cuma bisa dicapai ketika tidur, karena seketika lu bangun pun pasti lu langsung kepikiran akan banyak hal.

Nampaknya pembahasan ini sudah cukup melenceng dari pokok permasalahannya. Intinya, gue mau menyarankan kepada kalian dan juga diri gue sendiri untuk bisa lebih bijak dalam mengalokasikan pikiran kita. Informasi atau pikiran yang datang juga sebenarnya ada dua jenis: bisa kita kendalikan dan tidak bisa kita kendalikan. Seperti pada contoh di paragraf tiga, itu merupakan hal yang kita tidak bisa kendalikan karena datangnya dari orang lain. Meskipun begitu, kita selalu punya kendali atas diri kita sendiri untuk menafsirkan apa informasi yang kita terima. Kita bisa saja kepikiran dengan perkataan rambut tersebut dan ujung-ujungnya mengubah gaya rambut kita karena terbawa oleh sugesti orang tersebut, atau kita juga bisa dengan mudah (well ga mudah at first) untuk nge-bodo-amat-in kalimat tersebut karena kita rasa ini keputusan yang memang kita inginkan dan sudah kita pikirkan dengan matang. Well, saying is easy, but the practice is not that easy. Sebenarnya topik ini juga sangat bisa dibahas lebih jauh, karena menurut gue masalah bodo amat ini juga nyerempet dengan simpati dan empati. Terlalu bodo-amat-an juga ga bagus karena kalian malah bisa jadi nir-empati atau jadi ga peduli dengan keadaan sekitar. Tapi yaa kayanya segini dulu aja, di pikiran gue masih banyak sebenarnya dan ini gue rasa belum mewakilkan apa yang gue ingin coba tuangkan, tapi hanya ini yang paling bisa gue sampaikan dalam bentuk tulisan.

Comments

Popular Posts