Esensi Kehidupan

     

(source: https://ro.pinterest.com/pin/14214555066787189/)

Tulisan kali ini mungkin menjadi salah satu tulisan gue dengan topik yang abstrak. Gue mau mengingatkan bahwa di tulisan ini gue hanya menggunakan logika dan akal-akalan kurang berdasar. Tidak ada sitasi jurnal atau data yang mendukung opini-opini di bawah ini. Jadi, percaya secukupnya lalu lakukan riset lebih jauh untuk mengetahui fakta yang sebenarnya.

Timeline Kehidupan                                     

(source: https://ro.pinterest.com/pin/792492865670562214/)

Sekarang adalah tahun 2023 masehi. Masehi merupakan jenis penanggalan yang paling populer saat ini, diikuti oleh Islamic dan Lunar calendar. Terlepas dari sistem penanggalan apapun itu, yang ingin gue garis bawahi di sini adalah fakta bahwa dunia ini sudah ada sejak lama sekali—mungkin lebih lama dari yang kita bisa bayangkan. 1000 hijriah, 2000 masehi, 4000 lunar, itu semua masih belum dapat merepresentasikan kehidupan yang sudah pernah ada di bumi seluruhnya. Para peneliti memperkirakan usia bumi sudah mencapai milyaran tahun. But how did the scientist determine the age of earth? Well itu pembahasan lain, tapi intinya untuk mengetahui usia bumi biasanya mereka mengambil sampel batuan/sedimen dan mencari tahu waktu paruh unsur yang terkandung di dalamnya. Gue sebenarnya pengen bilang kehidupan di dunia, tapi rasanya itu terlalu luas dan karena belum ada bukti autentik tentang kehidupan di luar bumi. Jadi, mari kita bahas spesifik kehidupan di bumi saja.                             

(source: https://ro.pinterest.com/pin/439593613637413115/)

Coba perhatikan sekeliling kalian. Rumah atau lingkungan yang kalian tinggali saat ini dulunya mungkin tempat T-rex berkeliaran, tempat mammoth bermigrasi, atau bahkan tempat manusia purba nongkrong-nongkrong dengan sobat  manusia purbanya. Tidak mentup kemungkinan juga di bawah rumah yang selama ini kita tinggali terkubur ribuan mayat manusia purba dan juga hewan-hewan yang sudah terurai tak tersisa. Menurut gue pribadi, fakta tersebut sangat unik dan mengagumkan  bahwasanya bumi yang kita tempati sekarang masih bumi yang sama dengan berbagai hewan purba tersebut tinggali, dan juga masih sama seperti our (great great great)^1000 ancestors lived in. Meskipun bumi telah melewati berbagai macam fase yang sangat panjang, but all of these still the same soil and the same water that have been here since million or billion years ago.                 

Dengan menyadari bahwa kehidupan di bumi ini sudah berjalan sangat sangat lamaa, maka hidup yang  kita jalani ini hanyalah bagaikan jarum di tumpukan jerami dan tidak ada artinya di mata semesta. Kita hanyalah satu orang yang mendiami satu kota yang tergabung dalam sebuah negara dan negara tersebutt berada di sebuah benua dan benua itu berada di sebuah planet bernama bumi dan bumi ini hanyalah satu dari sekian banyak planet di tata sur—no no no, cukup. Kita tidak akan membahas hal di luar bumi sesuai perjanjian di awal tadi. Meskipun demikian, tidak berarti di mata semesta bukan berarti tidak berarti bagi kita. Hidup kita sangat berharga bagi kita dan orang-orang terdekat kita, pun begitu dengan orang lain, terlepas dari banyaknya manusia yang hidup sekarang ataupun pernah hidup di masa lampau, masing-masing dari mereka memiliki jiwa, raga, struktur DNA, kromosom yang unik dan membuat kita berharga dan harus dihargai.

(source: https://ro.pinterest.com/pin/506584658096322886/)

Fakta bahwa bumi ini sudah sangat berumur terkadang membuat gue berpikir bagaimana sih kehidupan di masa lampau? Dengan rentang waktu ratusan juta tahun, mungkin ngga sih ada peradaban yang pernah sangat unggul dibandingkan peradaban kita saat ini. Rasanya ada kemungkinan bahwa dunia ini pernah dihuni oleh sebuah generasi yang sudah sangat advance dalam segi sains, teknologi, ataupun pengetahuan. Generasi unggul yang gue maksud di sini yang benar-benar unggul, mungkin mereka bisa membuat mobil terbang, obat-obatan canggih, yaa kurang lebih seperti yang kita sering lihat di film-film lah—jauh lebih unggul dari sekadar membangun Piramida, Candi Borobudur, ataupun Stonehage. Namun mungkin saja, peradaban ini tersapu bersih oleh catastrophe that we couldn't imagine. Pasti kalian akan meng-counter opini ini dengan berkata: ga masuk akal, kalau memang benar ada, kenapa tidak ada sisa fossil atau sisa peradabannya sama sekali seperti dinosaurus? Pertama, ini hanya opini liar, gue cuma bilang ini sebuah kemungkinan. Kedua, fossil ga jadi jaminan. Makanya gue bilang catastrophe that we couldn't imagine, yang mungkin saja meluluhlantakkan bumi ini hingga back to default. Sekali lagi, alasan gue ini didasari karena melihat timeline kehidupan di bumi yang sangat panjang, dan 200 hingga 100 tahun ke belakang digadang-gadang sebagai puncak keemasan ilmu pengetahuan manusia—dimana mereka mengembangkan revolusi industri, internet, dan berbagai macam teknologi dengan sangat massive dan cepat. 

Anggaplah kehidupan di bumi ini sudah terjadi selama 200 juta tahun, masa 1/100 juta waktu mengantarkan kita ke golden age sedangkan 99/100 jutanya tidak. I know, pengetahuan yang kita gunakan sekarang juga didasari oleh pengetahuan-pengetahuan terdahulu. Tetapi tetap saja, melihat perbandingannya terasa cukup menggelitik. Hal terakhir yang ingin gue highlight di chapter ini adalah terkait pernyataan lumrah yang mungkin kalian sering dengar: "Bersyukurlah kalian hidup di zaman sekarang, dimana teknologi sudah sangatt maju, sudah ada handphone, listrik, dan segala kemudahan lainnya." Bagi gue ini statement yang sangat debatable. Kalian hidup di zaman dahulu ataupun zaman sekarang nyatanya akan tetap sama. Manusia yang hidup 1000 tahun lalu ga akan iri ngelihat kalian punya HP, mereka punya sesuatu yang membuat mereka senang kok pada zamannya, mungkin bermain lempar=lemparan batu atau kejar-kejaran dengan kadal gurun. Kalau kita berpikir bahwa kita lebih beruntung hidup di zaman sekarang, berarti kita merupakan seorang yang materialis. Intinya, kalian menganggap dengan memiliki teknologi yang lebih maju, atau barang-barang yang lebih bagus bisa menjadi tolak ukur kebahagiaan.

Memanusiakan Manusia

Dengan berbagai fakta dan penjelasan yang sudah kita bahas di bab sebelumnya, rasanya sangat tidak pantas kita sebagai manusia untuk berlaku sombong. Karena kita hanya satu dari milyaran orang yang hidup di bumi yang sama, dan hanya satu generasi dari ribuan generasi yang sudah pernah menempati bumi ini sebelumnya. Engga usah juga merasa diri kita paling menderita atau diri kita paling sengsara, karena nyatanya milyaran orang juga sedang berjuang dengan hidupnya di waktu yang bersamaan dengan kita.

(source: https://ro.pinterest.com/pin/217509856993485393/)

Nyatanya, tidak semua manusia bisa memanusiakan sesamanya. Masih banyak sekali manusia yang merasa dirinya memiliki derajat di atas orang lain. Gue termasuk orang yang lebih mengedepankan Humanity ketimbang Religion. Bukan bermaksud melalaikan agama, tetapi menurut gue orang yang beragama dengan "benar" akan memiliki hubungan sesama manusia yang baik pula. Well, mengingat di tulisan ini gue ga mau membahas banyak soal agama, soo lets move on. Memanusiakan manusia tidak melulu soal memberi dampak positif ataupun berbuat baik. Bagi gue, bare minimum memanusiakan manusia adalah menjadi tidak ngeselin atau nyusahin bagi orang lain. Terdengarnya simple ya, tapi kenyataannya masih sangat banyak orang yang udah ga berbuat baik, tapi masih nyusahin. Misalnya, kalau lu ga bisa bantu temen lu yang sedang kesusahan, ga usah nambahin masalahnya dengan kepo atau sok nasehatin dengan cara yang ga benar. Gue yakin pada hakiatnya setiap manusia pasti bisa memenuhi bare minimum ini. Hanya saja, terkadang kita (gue pun juga) sering lupa memposisikan diri.

Mungkin ada baiknya kita tarik sedikit pembahasannya ke diri masing-masing. Umumnya orang yang sudah bisa mengontrol dirinya atau berbuat baik terhadap dirinya akan lebih mudah untuk menerapkannya kepada orang lain. Gue juga beberapa waktu lalu sempat menonton video yang menjelaskan bahwa kecerdasan emosional (EQ) merupakan sebuah most-wanted skill untuk membangun relationship antar manusia yang baik. Gue cukup setuju, karena kecerdasan emosional gue rasa jauhh lebih bermanfaat ketimbang kecerdasan intelektual atau kecerdasan apapun itu. Karena kecerdasan intelektual itu dicari, sedangkan kecerdasan emosional itu disadari. Rumus pythagoras atau perhitungan akuntansi itu kita pelajari, sedangkan menolong orang itu alamiah datangnya. Maka dari itu, bagaimana kalian dapat  mempelajari sesuatu yang harus dicari ketika kalian saja tidak menyadari suatu hal yang sudah kalian miliki secara alamiah.

(source: https://ro.pinterest.com/pin/957789045738115352/)

Walaupun tidak bisa dipungkiri juga kalau kita mengacu pada cerita kitab dan nabi-nabi terdahulu, rasa dengki, iri hati, dan sifat buruk manusia juga sudah ada sejak awal kemunculan manusia. Bisa dibilang kecerdasan emosional ini diberikan sepaket dengan sifat buruk, tinggal bagaimana kita mengontrol kedua hal tersebut. Kalau tidak cukup alasan untuk kita untuk berbuat baik kepada orang lain, paling tidak ingatlah jika orang yang kalian temui di jalan, stasiun, transportasi umum, mungkin hanya akan anda temui sekali seumur hidup. Tukang gorengan yang kalian temui ketika berjalan menuju kantor mungkin tidak akan anda temui lagi nantinya. Berikanlah kesan baik kepada mereka, dan buatlah diri kita bahagia atas sesuatu yang kita lakukan.

(source:https://ro.pinterest.com/pin/20125529576456266/)

Memanusiakan manusia pada dasarnya dapat dilakukan apabila kita sudah dapat memanusiakan diri ktia sendiri—jangan lupa, diri kita sendiri juga manusia. Banyak dari kita terkadang lebih mementingkan orang lain dibanding kita sendiri. Memang, dari tadi gue membahas terkait interaksi baik antar manusia, tetapi ada kalanya kita harus bisa sedikit egois dengan menaruh kepentingan pribadi kita di atas kepentingan orangg lain. Lebih jauh, gue juga pernah membahas dalam topik tersendiri terkait "engga enakan" kepada orang lain, yang kalian bisa akses di website ini.

---------------------------------------------------------------------------------------

Bumi yang kita huni sudah sangat tua. Kehidupan yang pernah dan sedang terjadi pun telah berlangsung selama jutaan bahkan milyaran tahun. Jika diibaratkan, kita hanyalah satu dari milyaran keping puzzle yang menyusun alam semesta. Memang terkesan sedikit, tetapi satu keping puzzle yang hilang atau rusak akan terasa bagi mereka yang memberi perhatian pada bagian tersebut  mereka adalah kita, keluarga, serta orang-orang terdekat kita. Menjadi bagian dari alam semesta, atau dalam hal ini bumi memberikan kita tanggung jawab moral karena kita hidup berdampingan dengan manusia lain. Sama seperti puzzle tadi, kehidupan orang lain menjadi pelengkap dari bagian puzzle kita. Menjalani hidup dengan tetap menjalin keharmonisan antar sesama manusia menjadi hal yang patut dilakukan oleh setiap pribadi. Lantas, sudahkah kamu melengkapi puzzle kehidupan-mu?






Comments

Popular Posts