Gelang si Paku Gelang
Perjalanan pulang gue dari kantor menuju stasiun melewati 3 lampu merah. Hari ini, ketika pulang, shuttle bus yang gue tumpangi terhenti oleh ketiga lampu merah tersebut di momen yang hampir sama persis. Beberapa meter sebelum melintasi perempatan, tiba-tiba lampu yang tadinya berwarna hijau menjelma menjadi merah dalam satu kedipan mata. Benar-benar dengan ritme dan momen yang sama. Ketiganya. Tentunya hal tersebut cukup membuat waktu pulang gue menjadi lebih lama beberapa menit dari yang seharusnya.
Gue kira kebetulannya hanya sampai situ, tapi ternyata gue salah. Entah kenapa shuttle bus hari ini cukup lama ketika mencari tempat berhenti di stasiun. Setelah turun, gue bergegas menuruni tangga—langkah gue cukup terburu-buru, padahal biasanya engga. Seolah perasaan gue telah membaca pola ini dan mengatakan "Ayoo Irfan, cepetann!" BENAR SAJA, gue melihat dari kejauhan kereta tujuan Tanah Abang yang seharusnya gue tumpangi berlalu begitu saja. Ya, sama seperti lampu merah tadi, sepersekian detik. Tentu, langkah gue terhenti lagi, dengan momen dan ritme yang masih sama seperti lampu merah tadi. Takdir itu indah, bukan? Apalagi ketika kita menyadari dan mentertawakannya.
Update: Setelah gue ingat-ingat lagi, ketika gue keluar kantor menuju tempat menunggu shuttle bus, mobil jemputan tersebut langsung datang tanpa gue sempat menunggu. Beberapa detik gue keluar kantor, bus itu langsung tiba. Lucu ya. Apakah cerita di dua paragraf di atas merupakan ganjaran atas kebetulan ini? Berangkat lebih cepat, tapi waktu sampai dilambatkan. Fair enough buat gue, tapi dampaknya kan dirasakan oleh satu shuttle, bukan gue doang. Atau jangan-jangan, ini adalah punishment bagi salah satu penumpang shuttle selain gue? Atau memang begitu cara kerja takdir? Takdir seseorang dapat menentukan nasib orang di sekelilingnya. Sepertinya iya.



Comments
Post a Comment