Uang dan Waktu
"Uang tidak dapat membeli waktu"
Setujukah kalian dengan kalimat di atas? Kalimat yang cukup banyak menjadi perdebatan di antara masyarakat kita. Sebagian besar setuju dengan kalimat ini, sebagian kecil masyarakat yang ber-uang mungkin tidak setuju dengan kalimat ini. Bagi gue, walaupun gue bukan termasuk orang yang ber-uang, gue tetap tidak setuju dengan kalimat ini.
Money can indeed buy time. Sebagai pekerja kantoran, gue menukar waktu, tenaga, dan pikiran gue untuk uang. Tentunya kalau gue tidak mencari uang, waktu yang gue luangkan untuk melakukan pekerjaan dapat dialokasikan untuk hal lain. (1)
Money could also save your time. Apabila kalian ingin ke Medan dari Jakarta, tentunya waktu tempuhnya akan lebih singkat jika kalian menggunakan pesawat dibandingkan dengan moda transportasi lain. Tentunya, uang yang harus kalian keluarkan juga lebih banyak jika ingin menggunakan pesawat. Apabila kalian seorang yang sangat kaya, kalian juga dapat menghemat waktu dengan menaiki helikopter untuk menyusuri jalan/langit Ibu Kota. Bayangkan betapa banyak waktu yang dapat kalian hemat dengan tidak perlunya menerjang macetnya ibu kota. Sebenarnya gak melulu uang ya, kalau kalian punya kuasa kalian juga bisa menggunakan strobo "tett..tett..wukk..wukk" untuk menghemat waktu dan memecah macetnya Ibu Kota demi kepentingan kalian yang ga penting-penting amat itu. (2)
Money can extend time. Dengan memiliki uang yang banyak, kalian memiliki kesempatan untuk membeli makanan sehat dan bergizi, menghindari risiko terluka ketika melakukan sesuatu, juga mendapatkan fasilitas kesehatan yang mumpuni. Implikasinya, kalian cenderung menjadi lebih sehat dan berkemungkinan untuk memiliki umur yang lebih panjang. Well kalau masih ada yang bilang "Usia itu kan takdir bang, semua yang lu bilang itu ga berlaku kalau misalnya Tuhan mau orang tersebut mati," mending kalian segera meninggalkan blog ini. (3)
Perdebatan tentang hal ini memang rasanya sulit untuk diselesaikan, atau memang sepertinya ngga perlu untuk diselesaikan–karena jumlah populasi yang setuju lebih banyak ketimbang tidak setuju. Mayoritas orang yang setuju tentunya merasa mereka tetap memiliki waktu yang sama dengan mereka yang memiliki uang, yaitu 24 jam. Mereka tidak sadar bahwa alokasi waktu 24 jam tersebut tentunya sangat berbeda. Dalam hal ini juga kita hanya membahas tentang kaitan uang dengan waktu, belum lagi kenyamanan, keamanan, kemudahan, dan kekuasaan yang juga beriringan dengan uang. Jangan salah, gue bukan orang yang mendewakan uang kok. Gue sangat yakin kebahagiaan memang tidak bisa dibeli dengan uang, tetapi harus diciptakan dari diri kita sendiri. Walaupun tak bisa dipungkiri uang bisa lebih mudah memunculkan kebahagiaan, tetapi tetap poinnya adalah di diri kita sendiri. Ada kasus dimana orang yang kekurangan dari segi materi tetapi hidupnya penuh dengan kebahagiaan, dan juga sebaliknya (gue menggunakan kata "Ada kasus" bukan "Banyak kasus"). Akhir kata, mungkin kalimat "Uang tidak dapat membeli waktu" akan terdengar lebih masuk akal jika diubah menjadi "Uang tidak dapat membeli takdir."
.jpeg)


Comments
Post a Comment