Pembanding
![]() |
| (Dawn at Wates Train Station) |
Perjalanan singkat gue ke Jogjakarta beberapa waktu lalu memantik sebuah pertanyaan filosofis sederhana yang lama terpendam: Apa sih sebenarnya tolak ukur kebahagiaan?
Definisi kebahagiaan dan apa yang menciptakan rasa bahagia sangatlah beragam. Sebagian berpendapat kebahagiaan bisa kita ciptakan sendiri, sebagian masih menggantungkan kebahagiaannya pada seseorang atau sesuatu, sebagian bahkan tidak menyadari dan tidak peduli tentang hal ini. Tetapi itulah uniknya, semua orang mencoba mendefinisikan parameter bahagianya, namun tidak ada jawaban benar dan salah seperti ujian, semuanya relatif.
Awalnya, bahagia versi gue sama seperti yang lumrah digambarkan orang-orang di ruang publik: Punya banyak uang, tinggal di rumah mewah, ataupun dapat membeli berbagai hal yang kita mau. Mungkin persepsi ini tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar juga. Ketika gue ke Jogja, gue tinggal di sebuah kecamatan kecil bernama Pengasih. Kecamatan ini terletak di sebelah barat kota Jogja dan cukup jarang menjadi opsi bagi wisatawan untuk disambangi. Hal ini membuat gue bisa melihat kehidupan asli masyarakat yang tinggal di sini.
Masyarakat di sini banyak sekali yang masih menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, peternakan, dan juga usaha kecil. Kehidupan di sini juga sangatlah sederhana—tidak ada rumah mewah, jarang ada mobil berlalu-lalang, bahkan tidak ada mall atau tempat hiburan seperti yang banyak sekali gue temui di Jakarta. Lantas, apakah bisa dikatakan masyarakat di sini tidak bahagia? Sama sekali tidak.
![]() |
| (Jolotundo) |
Sejauh yang gue lihat dan rasakan, kehidupan masyarakat di sini tidak kurang bahagia dari definisi yang gue utarakan di paragraf kedua. Bahkan, bisa dibilang lebih bahagia dari mayoritas orang di kota—paling tidak itu yang bisa gue simpulkan melihat betapa hangatnya interaksi antar penduduk di sini. Anak-anak kecil bermain layangan di tanah-tanah kosong yang masih banyak tersedia, Ibu mengantar anaknya ke sekolah, warga-warga berkumpul di malam hari untuk sekadar berbincang dengan tetangga sekitar. Gue bisa melihat senyum sumringah terlukis di wajah mereka semua.
Ada kejadian yang cukup membekas di benak gue ketika perjalanan kemarin. Malam pertama di Jogja, gue mencari makan malam bersama teman di sekitar Wates. Ketika sedang makan, gue dihampiri oleh seorang nenek-nenek, atau mungkin kita bilangnya mbah-mbah ya karena konteksnya di Jowo. Mbah ini menjual makanan yang entah apa namanya, lalu ia menghampiri kami sembari berbicara bahasa Jawa yang teman gue orang Jawa sekalipun tidak mengerti—konon katanya sih itu bahasa Jawa Kromo yang sudah jarang digunakan masyarakat.
Sebelum berusaha mencerna apa yang dikatakan si Mbah, pikiran gue sudah dipenuhi banyak pertanyaan—apa makanan yang Mbah ini jual? Kasihan sekali dia masih membopong bawaan yang berat di punggungnya. Lalu, tengah malam begini kenapa dia masih berkeliaran di tengah kota? Apakah keluarganya tidak mencarinya? Bagaimana jika rumah si Mbah ini jauh dari sini? Semua pertanyaan tersebut tidak pernah terjawab. Tetapi terlepas dari semua itu, ada satu hal yang bisa gue kagumi, Mbah tersebut sangat ramah kepada kami. Semua pertanyaan dengan maksud mengkhawatirkan yang gue pikirkan tadi seperti ditangkis dengan keramahan dan senyuman yang ia berikan, seolah mengatakan bahwa ia bahagia dan baik-baik saja.
![]() |
| (YIA dalam) |
At this point, i have realized that the definition of happiness i put on the second paragraph was completely wrong. Anak-anak kecil yang gue lihat bermain layangan mungkin nantinya akan pulang ke rumah sederhana di tepi sawah. Warga-warga yang berkumpul pada malam hari mungkin nantinya akan kembali ke rumah dan memikirkan tagihan yang harus ia bayar bulan ini. Ataupun Mbah penjual makanan yang entah apa. Mungkin keuntungan berdagang si Mbah hanya cukup untuk membayar kontrakan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun mereka semua bahagia.
Tidak ada parameter yang membatasi mereka untuk menjadi tidak bahagia hanya karena beberapa hal yang tidak mereka miliki. Mungkin sampai di sini gue hanya menilik perbedaan antara masyarakat yang tinggal di kota dan masyarakat yang tinggal di desa, dan gue anggap itu belum cukup untuk mencari definisi sesungguhnya dari kebahagiaan.
![]() |
| (YIA's sunset) |
Coba kita tarik jauh lagi ke belakang, di masa dimana manusia masih sangat primitif. Apakah mereka juga merasakan bahagia? Well, sebenarnya ga ada jaminan sih, karena Pierre Morgan atau Joe Rogan ga mendapat kesempatan untuk mewawancarai mereka secara langsung. Tapi gue berani jamin jawabannya iya—karena bahagia merupakan perasaan naluriah, sama seperti perasaan cinta. Jadi apabila manusia primitif saja bisa saling mencinta dan bereproduksi, yaa pasti merasakan bahagia dong mereka. Tapi coba deh kita menilik dari sisi lain untuk memperluas horizon pencarian definisi kebahagiaan ini. Ada satu poin yang ingin gue highlight, yaitu pembanding.
Manusia primitif tidak memiliki pembanding untuk membandingkan kehidupan mereka dengan manusia primitif lain. Tidak ada internet untuk melihat kehidupan manusia primitif di belahan bumi lain, tidak ada kendaraan untuk menyambangi kediaman manusia primitif lain, dan berbagai media yang memungkinkan pertukaran informasi antar mereka. Intinya, karena lu tidak punya pembanding, rasa bahagia akan lebih mudah tercipta.
Jika kalian masih ingat si Mbah penjual makanan tadi, kemungkinan Mbah tersebut bisa kita anggap sebagai manusia primitif di era sekarang. Dia mungkin tidak pernah mendengar tentang mobil Rolls-royce, tidak pernah melihat rumah mewah, juga tidak mengetahui apa itu Wolfgang Steakhouse. Hidupnya hanya difokuskan untuk dirinya dan orang-orang terdekatnya. Hal ini yang menjadikan Mbah ini bisa tetap merasakan bahagia, meskipun dengan hal-hal yang kita mungkin anggap sebagai kekurangan.
Berkaca dari kehidupan yang ada saat ini, memang rasanya sangat jauh berbeda dengan contoh manusia primitif ataupun Mbah penjual makanan pada paragraf sebelumnya. Transfer informasi antar sesama manusia sudah tak terelakkan. Contohnya gue. Sebagai seorang yang sejak lahir sudah mendiami kota besar, menyaksikan hingar-bingar ibu kota, pasti memiliki standar bahagia yang berbeda dengan orang yang dilahirkan dan dibesarkan di kondisi berbeda.
Bahkan gue juga sempat berpikir, mengapa Tuhan tidak membiarkan manusia untuk dapat melihat mukanya sendiri? Yaa walaupun sekarang kita bisa dengan bebas dan mudah melihat muka kita dengan menggunakan bantuan kaca atau pantulan cahaya yang terbentuk di permukaan air. Tetapi by default, manusia memang tidak diciptakan untuk dapat melihat mukanya sendiri. Menurut gue hal ini agar manusia tidak saling membandingkan wajahnya dengan wajah manusia lain, sehingga tidak ada pembanding yang mungkin bisa membuat redupnya rasa kebahagiaan bagi mereka yang merasa kurang elok dibanding manusia lainnya.
![]() |
| (Tumpeng menoreh) |
Berbekal definisi baru tersebut, banyak sekali turunan yang bisa kita buat untuk menginterpretasikan bahagia. Kita bahkan dapat mengatur bagaimana memunculkan perasaan bahagia dengan mengendalikan ekspektasi yang kita miliki. Terlepas dari definisi dan semua penjelasan gue, tentunya kita juga memiliki kebebasan untuk mendefinisikan kebahagiaan kita masing-masing — karena bahagia bukan milik orang kota ataupun orang desa, bahagia juga bukan milik si kaya atau si miskin, bahagia merupakan perasaan universal yang dimiliki oleh orang-orang yang menghendaki diri mereka untuk bahagia. ))
Happiness is when expectation meets reality
![]() |
| (YIA depan) |





.jpeg)


Comments
Post a Comment