Childhood
Akhir-akhir ini suhu di Indonesia pada umumnya, dan Jakarta pada khususnya, mengalami kenaikan yang cukup dapat dirasakan oleh masyarakatnya. Hujan yang tak kunjung turun entah sejak kapan memberikan petunjuk bahwa kita masih berada di dalam musim kemarau panjang. Beberapa sumber mengatakan bawha gelombang panas ini mempengaruhi kehidupan kita entah dari segi fisik maupun mental. Oleh karena itu, sore hari ini gue mencoba untuk mencari udara segar dengan berjalan santai di sekitar rumah. Rumah yang gue tinggali sekarang masih merupakan rumah yang sama ketika dua puluh empat tahun lalu gue dibaringkan sepulang dari rumah sakit. Tapi bukan itu yang ingin gue bahas. Ternyata, karena cuaca panas ini gue jadi memiliki kesempatan untuk jalan sore santai dan merefleksikan kehidupan masa kecil gue.
Ketika masih kecil, kita kerap berkeinginan untuk cepat menjadi dewasa. Alasannya beragam: ingin bisa hidup bebas tanpa diatur orang tua, ingin bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa (not in a sus way, naik wahana di dufan misalnya), atau hanya sekadar ingin merealisasikan segala keinginan dan harapan yang kita impikan kala itu. Tetapi, ketika kita beranjak dewasa, gue berani jamin banyak di antara kita yang mengininkan untuk kembali ke masa kecil. Masa dimana masalah terberat yang kita hadapi hanyalah PR matematika ataupun aturan dari orang tua.
Kita mungkin tidak ingin mengulang masa ketika kita dimarahi oleh orang tua, ataupun ketika imunisasi yang terasa sangat menyeramkan kala itu. Tetapi tak bisa dipungkiri kita pasti merindukan tidur siang, main bersama teman, dan bermacam hal lainnya. Masa kecil memang cukup singkat. Jika kita hidup sampai usia 60 tahun dan menganggap masa kecil berada pada rentang umur 4-12 tahun, maka proporsinya hanya sekitar 13%. Namun proposi kecil inilah yang menjadi pondasi dan membentuk kita untuk 87% ke depannya.
Bagi kita yang baru memasuki usia dewasa, mungkin merindukan masa kecil sama halnya dengan orang tua yang rindu akan masa mudanya. Gue pernah melihat sebuah poster yang memuat perbandingan antara anak kecil, orang dewasa, dan orang tua. Poster tersebut menunjukan perbandingan antara waktu, uang, dan tenaga. Bagi kalian yang membaca ini gue yakin kalian cukup pintar untuk menginterpretasikannya sendiri. Tetapi, bukan itu yang ingin gue bahas.
Seperti yang gue bilang tadi, masa kecil merupakan pondasi yang menentukan bagaimana diri kita akan tumbuh nantinya. Beberapa orang menjadi sangat sukses di bidangnya karena telah diperkenalkan dan dilatih sejak masih belia. Namun tak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut tidak bisa dirasakan oleh semua anak. Engga, engga hanya faktor ekonomi — faktanya banyak orang tua yang memang belum sadar akan pentingnya menumbuhkan minat bakat anak sejak kecil. Tambahan lagi, most of the prodigies in sport or art sudah menggeluti bidangnya sejak usia sangat sangat dini. FYI, gue pun tidak seberuntung itu untuk dapat mengeksplor berbagai hal semenjak kecil. Satu-satunya privilidge yang gue rasa gue dapat adalah mengenal komputer sejak dini, yang mana menghantarkan gue mengenal game dan memenangkan beberapa perlombaan ke depannya.
Pada akhirnya masa kecil hanyalah sebuah fase yang dilewati semua orang. Semua momen yang terukir dan tertinggal hanya akan menjadi kenangan yang mungkin bisa diceritakan lintas generasi. Sama seperti fase kehidupan lainnya, masa kecil tidak hanya diisi oleh hal indah. Mungkin sebagian orang mendapatkan trauma ketika kecil dan hal tersebut masih terpatri di pikirannya sampai sekarang. Sebagai fase pembuka, masa kecil memiliki sumbangsih yang cukup besar terhadap fase-fase berikutnya. Kalau bisa memilih, mungkin hal yang paling gue ingat dan rindukan dari masa kecil adalah kebebasan dan minimnya tanggung jawab di masa itu. Namun, semua sudah berlalu. Saatnya mengambil pelajaran dari hal yang sudah terjadi dan mencoba mengukir memori baru yang bisa dikenang nantinya. Jangan lupa, sekarang adalah saatnya kita membuktikan kepada diri kecil kita bahwa hal yang kita impikan dan cita-citakan dahulu dapat kita raih!




.jpeg)

.jpeg)


Comments
Post a Comment