(Un)Fair

(source: https://ro.pinterest.com/pin/345932815100480638/)


Life is unfair; it has not been, and will not be.

Apakah kalian sering merasa hidup ini tidak adil? Ataupun merasa keberuntungan dan kebaikan tidak berpihak kepada kita? Jika iya, wajar. Jika tidak, Selamat! Mungkin kalian merupakan segelintir orang yang beruntung untuk dapat merasakan hal tersebut. Gue sangat percaya alam semesta ini merupakan konstelasi yang stabil. Keberuntungan bagi seseorang bisa jadi kerugian bagi seseorang lainnya, vice versa. 

Meskipun stabil, tetap saja hal-hal baik atau yang kita inginkan rasanya lebih jarang terjadi dibandingkan dengan yang tidak. Sebenarnya hal ini juga gue tidak menemukan penjelasannya. Mungkin karena hal yang manusia inginkan bisa dibilang "muluk", atau memang hidup ini adil tapi kita saja yang tidak bisa memahaminya atau memiliki ekspektasi yang berbeda. Gue sadar cukup sulit bagi kita untuk setuju bahwa hidup ini adil — atau memang ternyata tidak adil?

Mari kita mulai ketika seorang manusia lahir. Manusia dilahirkan dengan kondisi yang sangattt beragam. Mulai dari yang subjektif seperti terlahir dengan wajah yang rupawan, hingga yang objektif seperti lahir dengan penyakit bawaan atau terlahir dari orang tua yang berkecukupan. Kedua contoh ini, baik yang subjektif maupun yang objektif, nantinya akan menjadi kontributor pada ketidakadilan-ketidakadilan lainnya di kehidupan.

Ketika beranjak remaja, lebih banyak lagi ketidakadilan yang terlihat. Ada anak yang dibekali dengan kepintaran di atas rata-rata, ada juga anak yang semua keinginannya selalu dapat dituruti dan tidak pernah merasakan yang namanya kekurangan dalam bentuk apapun. Untuk poin kedua, sudah jelas ini karena faktor yang gue sudah sebutkan di paragraf sebelumnya. Namun untuk poin pertama, walaupun di tulisan berbeda gue pernah membahas tentang semua orang memiliki kepintarannya masing-masing, gue juga percaya bahwa banyak orang yang memiliki base intellectual secara general yang lebih unggul dari orang lain dan dapat berguna di kehidupannya.

Ketika memasuki fase dewasa, semakin banyak ketidakadilan yang kita lihat dan rasakan sehingga kita sudah mulai menjadi terbiasa. Kendati demikian, fase ini merupakan yang terberat karena ketidakadilan yang terjadi merupakan akumulasi dari fase-fase sebelumnya. Sebagian orang masih harus menjadi sandwich generation dan membantu perekonomian keluarga di mana yang lain bisa mulai menabung untuk masa depan mereka. 

Sebagian bisa mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan bagus karena dahulu mengenyam pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi favorit. Memang, ini lebih terdengar sebagai tuaian atas usaha yang dipupuk sejak lama. Namun jika kalian tarik garis dari penjelasan awal gue tadi, pasti kalian sadar bahwa ini tidak semata-mata itu saja, tetapi ada faktor ketidakadilan yang diterima sejak lahir.

Pada akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, hidup akan lebih banyak dipenuhi oleh hal-hal yang bersebrangan dengan kemauan kita. Contoh-contoh kasus yang gue berikan di atas mungkin hanya sebagian kecil tapi substansial. Banyak ketidakadilan lainnya dengan skala lebih kecil yang kita temui di kehidupan sehari-hari. 

Sebelum menutup tulisan kali ini, gue ingin coba membawa kembali premis gue di paragraf pertama: "Alam semesta (dunia) ini stabil, keberuntungan bagi seseorang bisa jadi kerugian bagi seseorang lainnya." Ada orang kaya ada orang kurang mampu. Tidak mungkin semua orang di dunia ini kaya atau semuanya tidak mampu. Ada yang memiliki kepintaran di atas rata-rata ada yang tidak. Tidak mungkin semua orang diciptakan pintar karena jika demikian definisi pintar itupun sendiri menjadi tidak ada benchmark nya. 

Gue pun memiliki prinsip yaitu apabila hidup ini sudah dipenuhi hal-hal baik selama kurun waktu yang cukup lama, gue akan curiga karena dengan pemahaman bahwa hidup ini akan lebih banyak hal yang kita tidak kehendakinya, pasti akan ada saatnya hal itu mengambil alih. 

Kalau kalian ingat juga, Niels Bohr merumumskan formula konfigurasi elektron, di mana sebuah unsur A yang memiliki konfigurasi 2 8 8 6, akan dapat mengambil elektron dari unsur B sebanyak 2 untuk mendapat kestabilan menjadi 2 8 8 8. Jadiii, hidup itu memang tidak adil jika dilihat dari sisi perorangan atau kelompok, tapi akan menjadi adil atau stabil apabila kita melihat di level keseluruhan atau alam semesta karena sesungguhnya keadilan dan ketidakadilan itu saling melengkapi.

Comments

Popular Posts