PEMILU 2024
![]() |
| (source: https://ro.pinterest.com/pin/625859679481850511/) |
Masyarakat Indonesia sangat tidak terbiasa dengan perbedaan pendapat. Ketimbang membangun diskusi yang sehat, mereka lebih suka untuk menghardik pendapat orang yang bersebrangan. Hal ini seolah menjadi paradoks, mengingat semboyan yang selalu kita gaungkan yaitu Bhineka Tunggal Ika—namun mayoritas dari kita sama sekali tidak memahami dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat tercermin dari bagaimana masyarakat kita merayakan pesta demokrasi terbesar di negara ini, yaitu Pemilu.
Ada beberapa hal yang cukup unik di Pemilu kali ini. Salah satunya, setelah dua periode terakhir Pemilu hanya diramaikan oleh dua pasangan calon, kali ini ada tiga pasangan calon yang meramaikan kontestasi. Selain itu, munculnya Gibran Rakabuming Raka dalam jajaran calon wakil presiden juga sangat menarik untuk diperhatikan—terlepas dari segala kontroversi yang menyertainya. Di luar hal-hal ini sebenarnya masih terdapat banyak keunikan lainnya, tetapi dua hal ini lah yang menurut gue top of the list.
Sejujurnya, gue sangat ingin membahas ketiga paslon yang ada, namun rasanya kapasitas pemikiran gue masih sangat rendah dan khawatir malah menimbulkan miskonsepsi. Disamping itu, gue juga memiliki prinsip di mana gue kurang terbuka terkait Paslon yang gue dukung—walaupun sampai saat ini pun gue belum dapat menentukan akan memilih siapa. Prinsip tersebut bukan tanpa alasan, gue merasa siap terhadap semua konsekuensi atas pilihan yang gue pilih—sedangkan apabila ada seseorang yang terpengaruh atas pendapat yang gue utarakan, gue tidak mau mereka ikut menerima konsekuensi tersebut, terlebih lagi jika mereka hanya sekadar ikut-ikutan.
Hal yang juga sering di-highlight pada Pemilu kali ini adalah terkait peran Gen Z. Berdasarkan data, Gen Z menyumbang 23% dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT). Tapi bukankah hal seperti ini memang sepatutnya terjadi? Maksud gue, mungkin 20 tahun lalu Generasi Y lah yang berada dalam 23% tersebut. Mungkinn, Generasi Z ini menjadi spesial karena mereka tumbuh di era digital, dimana hal tersebut sangat berperan pada influence yang diberikan oleh para Paslon dan diterima oleh masyarakat.
Kembali ke poin di paragraf pertama, impact digitalisasi memang mempengaruhi cara berkampanye dan cara kita mencerna berbagai informasi yang tersaji. Tak jarang informasi yang disajikan jauh dari kata akurat, bahkan cenderung menyesatkan. Kondisi ini diperparah dengan literasi membaca dan mencerna informasi masyarakat kita yang masih sangat minim—sehingga berimplikasi pada runyamnya diskusi yang kerap terjadi di media sosial.
Digitalisasi memang ibarat belati bermata dua. Apabila kita tidak mengutilisasi maka kita akan tertinggal, namun ketika kita mengutilisasi banyak juga hal yang harus kita saring untuk memastikan informasi atau segala hal yang kita terima akurat—atau at least kita tidak dibodohi. Terlepas dari segala plus minusnya, digitalisasi hanyalah sebuah tools. Sebagaimana tools pada umumnya, baik dan buruk output-nya ditentukan oleh si pengguna. Sepertinya gue cukup ter-distract dengan adanya variabel digitalisasi ini. Mari kita cukupkan pembahasan digitalisasi dan lanjut membahas Pemilu.
Perhelatan lima tahunan ini selalu menarik untuk diikuti. Tidak hanya hasil yang tentunya menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh semua orang—proses yang menyertainya juga sangat menarik—mulai dari debat yang dilakukan oleh para Paslon, debat yang dilakukan oleh simpatisan Paslon, ataupun debat yang dilakukan secara random oleh netizen.
Benar memang negara kita menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Namun, bumbu yang ditaburkan di tahun politik kali ini rasanya cukup membuat gue kepedesan. Gue merupakan orang yang cukup aktif di berbagai media sosial; Instagram, Tiktok, X, Youtube—hampir semua media sosial tersebut gue akses secara reguler. Dan, ya, gue mendapati ujaran kebencian, diskusi tidak sehat, serta berbagai cacian makian semua bersatu padu dalam berbagai platform tersebut.
Apabila ada seseorang yang berpendapat atau membela Paslon yang mereka dukung—walau menggunakan pendekatan yang rasional pun, pasti akan di-rujak oleh orang-orang yang memiliki pandangan berbeda. Padahal, perbedaan pendapat inilah yang seharusnya melahirkan pikiran-pikiran baru atau ruang diskusi baru yang dapatt menjadi pertimbangan bagi kita dalam menentukan pilihan. Itu juga kan fungsi dari oposisi dalam pemerintahan, yaitu untuk menjadi pengingat bahwa perbedaan pendapat itu hal yang diperlukan untuk membangun keseimbangan.
Akar dari perilaku seperti ini adalah fanatisme politik—dimana seseorang akan menutup mata dan telinga terhadap segala jenis masukan dan kritik dan hanya menganggap pemikiran mereka atau kubu mereka lah yang memiliki kebenaran mutlak. Gue sendiri sudah pernah membuat tulisan spesifik terkait fanatisme politik ini. Tulisan tersebut gue buat sekitar tahun 2019, tepat setelah Pemilu selesai. Namun melihat kondisi masyarakat Indonesia saat ini, rasanya tulisan tersebut masih relevan hingga sekarang atau paling tidak beberapa tahun bahkan puluh tahun ke depan.
Sudah lebih dari 20 tahun sejak era reformasi yang membuat kita dapat menentukan pilihan atas pemimpin tertinggi yang akan memimpin negara ini. Marilah kita coba tinggalkan kegiatan rutin yaitu menebar kebencian dan caci-maki siapa saja yang bersebrangan dengan kita. Apabila kalian tergabung dalam tim kemenangan atau tim kampanye, mungkin dapat dimengerti mengapa kalian membela Paslon mati-matian.
Tetapi, apabila kalian hanyalah masyarakat biasa yang tidak akan mendapat bagian dari kue apabila Paslon yang kalian dukung nantinya menang, santai ajaa, kalian akan tetap lapar kok— apalagi jika realita ketika terpilih ternyata tidak sesuai ekspektasi kalian. Lagi pula, satu dari tiga Paslon yang ada ini lah yang nantinya akan memimpin Indonesia. Rasanya tak elok jika kita menaruh kebencian yang berlebihan kepada para calon pemimpin kita.
Gue sama sekali tidak mengatakan bahwa kita tidak perlu berpendapat dan menyuarakan ideologi kita. Melainkan, gue hanya ingin iklim berdemokrasi yang lebih adem dan jauh dari keributan. Suarakanlah pendapat dan dukungan kalian dengan cara yang baik nan damai. Karena pada akhirnya, siapapun yang terpilih, kita harus mendukungnya dengan sepenuh hati—dan opini buruk yang kalian utarakan malah akan mencerminkan jati diri kalian. ))



Comments
Post a Comment