Israel & Palestine






Beberapa minggu belakangan, media diramaikan dengan pemberitaan terkait eskalasi konflik yang terjadi antara Palestine dan Israel. Mungkin dari kalian ada yang masih mengikuti perkembangan konflik ini, atau ada juga yang sudah mulai bosan dengan berita ini. Meski sudah hampir sebulan sejak serangan pertama dilancarkan oleh Hamas, konflik ini masih dan terus terjadi. 

Bahkan bisa dibilang beberapa hari merupakan puncak konflik dengan terjadinya lonjakan korban yang jatuh dari pihak Palestine. Israel juga baru saja hari ini melakukan invasi darat dengan mendatangkan tank ke daratan Gaza. Sebelumnya gue mau memberikan disclaimer dulu bahwa topik tulisan kali ini cukup sensitif. Gue akan mencoba membahas se-objektif mungkin dan tidak melebih-lebihkan. Segala yang gue tulis di sini juga berdasarkan pemahaman gue yang sempit dan rasanya kurang bisa dipertanggungjawabkan.

Konflik antara Israel dan Palestine memang seperti tidak ada habisnya. Serangan yang dilancarkan Hamas tanggal 7 Oktober 2023 seolah menjadi lanjutan episode dari series yang tak kunjung usai sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu. Gue paham bahwa konflik antara dua kubu ini sudah sangat sangat lama terjadi, dan gue juga tidak akan mencoba membahas sejarah yang lampau mengingat pemahaman gue juga tidak semenyeluruh itu. Namun rasanya sejarah tersebut tidak terlalu penting melihat apa yang sedang terjadi saat ini sangat tidak bisa ditolerir.

Hamas memang salah ketika melancarkan aksi pertama ke pihak Israel beberapa minggu lalu. Tetapi setiap tindakan pasti ada alasannya. Penyerangan bisa terjadi karena alasan offensive ataupun defensive. Jepang melakukan pengeboman ke Pearl Harbour untuk menghalangi US melakukan intervensi terhadap aksi mereka di Asia Tenggara, Ukraina melakukan serangan balasan ke Russia dengan alasan mempertahankan wilayahnya. Tetapi Hamas, apa alasan mereka melakukan ini? 

Warga Palestine secara umum, dan Gaza pada khususnya, telah hidup puluhan tahun di bawah bayang-bayang Israel. Segala kebutuhan pokok masyarakat diukur dan ditakar oleh Israel, termasuk pula listrik, makanan, dan rute keluar-masuk perbatasan. Tembok tinggi mengelilingi semenanjung Gaza, seakan mengasingkan penduduk wilayah ini dari manapaun. Kamera pengawas tak luput dari pandangan mata — tak jarang juga kalian melihat tentara Israel yang menyisir jalanan di kota kalian. Hal seperti ini sudah berlangsung selama puluhan tahun, bayangkan!

Seperti halnya hukum fisika, apabila sebuah benda diberi tekanan secara terus menerus, akan ada dua probabilitas yang terjadi: antara benda tersebut hancur, atau apabila tekanannya tidak cukup kuat untuk menghancurkan, benda tersebut akan balik melawan dengan mengeluarkan energi yang sangat besar. Tentu saja, Hamas dan Gaza merupakan contoh kedua. Ketika itu terjadi, semua dunia kaget. Mayoritas mengecam Hamas, bahkan melabeli teroris. Memang, apa yang dilakukan Hamas sama sekali tidak benar dengan membunuh dan menyandera warga sipil. 

Tetapi seperti yang gue tulis sebelumnya, do Hamas had options? Dengan kondisi yang sudah terjadi tinggal memilih untuk mati dengan melawan atau mati dengan sukarela secara perlahan. Lalu, banyak yang bilang Hamas lah yang memancing semua ini, dengan dalih tidak akan ada asap jika tidak ada api. Untuk kalian yang berpikiran demikian, sadarkah kalian bahwa Hamas melakukan penyerangan ini dengan tubuh yang sudah terbakar? Lantas mengapa kalian baru melihat asapnya sekarang?

Gue yakin banyak juga diantara kalian yang bertanya "Mengapa negara-negara timur tengah tidak mau membantu Palestine?" Well, setelah Kekaisaran Ottoman runtuh, negara-negara timur tengah sudah tidak berada di dalam payung yang sama. Mereka memilih jalannya masing-masing. Ada yang sibuk membangun demokrasi, ada yang ribut dengan perang saudara, tapi kebanyakan sih udah asik sendiri setelah kenal yang namanya oil. Alasan yang cukup dapat diterima, mementingkan kepentingan negara sendiri sebelum membantu negara lain. Not to mention risiko yang menunggu mereka jika berani mencoba melawan Israel dengan bayang-bayang negara barat. Bukan bayang-bayang malah, sudah nyata.

Dalam beberapa paragraf di atas, gue terus menggarisbawahi keharmonisan Israel dengan negara-negara barat. Lantas mengapa Israel bisa mendapatkan dukungan yang sedemikian besarnya dari negara-negara adidaya tersebut? Jawabannya simpel: Ilmu. Tak bisa dipungkiri bahwa kaum Yahudi banyak menjadi pionir dalam berbagai hal di hidup kita. Kaum ini banyak melahirkan generasi penerus yang sukses melakukan gebrakan-gebrakan pengetahuan di dunia. Disamping itu, kaum Yahudi ini tersebar di banyak penjuru dunia dan memiliki komunitas yang sangat kuat. Dengan beberapa faktor ini, jadilah mereka banyak memegang posisi strategis baik di sektor swasta maupun pemerintahan di berbagai penjuru dunia. 

Entah sampai kapan konflik antara dua negara ini akan berlangsung. Sudah hampir 80 tahun konflik ini berlangsung dan nyatanya belum ada upaya gencatan senjata yang berarti. Korban jiwa berjatuhan silih berganti terutama dari pihak sipil. Ketika awal-awal konflik ini berkecamuk, konflik ini masih bisa dikatakan sebagai perang — namun beberapa dekade ke belakang, menurut gue lebih pantas disebut sebagai massacre dibandingkan war. Ada sebuah analogi yang menurut gue tepat digunakan untuk menggambarkan situasi ini. Mari lupakan latar belakang konflik atau variabel apapun itu. Anggaplah Israel dan Palestine adalah sebuah kakak beradik yang memiliki selisih umur cukup jauh. Seperti yang wajar terjadi, kakak beradik kerap kali bertikai.

Tapi ingat, mama selalu mengatakan kepada sang kakak untuk tidak membalas apa yang dilakukan sang adik kepadanya. Mengapa? Because it won't cause a harm to you. Jika sang kakak berumur 12 tahun dan sang adik berumur 5 tahun, apakah perlu sang kakak membalas memukul si adik apabila si adik memukul terlebih dahulu? Poin yang ingin gue sampaikan adalah: lu itu udah di posisi yang bisa ngapain aja, El. Mereka bisa saja meratakan Gaza hanya dalam satu malam. Maka analogi self-defense yang mereka gunakan sangat tidak masuk akal, dengan segala gas beracun dan kejahatan perang yang secara paralel terus dilakukan. 

"My deep condolences go to those who are suffering. Please do note again that this is a massacre, not a war — and we all need to stop this, before it leads to genocide."



    

Comments

Popular Posts