Pengalaman Seleksi PCPM 38 BI

 



"Lolos PCPM" merupakan dua kata yang tidak pernah terbesit dalam pikiran gue sebelumnya. Bukan karena gue tidak percaya dengan kompetensi yang gue miliki, tetapi memang posisi ini tidak diperuntukan untuk seorang lulusan Teknik Pertanian. Sejauh yang gue tau, PCPM memang hanya menerima dua jenis jurusan teknik: Teknik Industri dan Teknik Informatika. Namun entah mengapa, khusus di tahun ini PCPM membuka lowongannya bagi semua lulusan Teknik. What a coincidence



Seperti yang gue tulis sebelumnya, PCPM bukanlah sebuah mimpi atau target yang gue impikan dari lama. Bahkan bisa dibilang gue cukup FOMO ketika mendaftar karena banyak teman yang membicarakannya. Kondisi saat itu juga gue sudah bekerja, jadi memang gue cukup santai ketika mendaftar. Bahkan seperti dapat dilihat pada gambar di atas, gue hampir lupa untuk melengkapi data registrasi.


Tes pertama yang harus dilalui pada tahapan PCPM kali ini adalah Seleksi Administrasi. Tahapan ini sebenarnya cukup mudah dan pastinya kalian sudah sangat lumrah. Kalian hanya perlu melengkapi biodata seperti latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, pengalaman organisasi, pencapaian, serta kelebihan dan kekurangan. Tidak ada trik khusus untuk bisa lulus di tahapan ini. Pengalaman kalian lah yang akan berbicara, sisanya biar HR yang menentukan.


Setelah dinyatakan lolos Seleksi Administrasi, kalian akan dihadapkan dengan Tes Potensi Dasar. Rasanya tes ini juga sudah sangat lumrah, dan tidak ada yang spesial juga di TPD PCPM ini. Soal yang diberikan tidak jauh-jauh dari Verbal, Numerik, dan gambar-gambar. Rasanya tidak ada trik khusus juga untuk tahapan ini. Mungkin bagi kalian yang masih jarang menghadapi tes semacam ini bisa baca-baca contoh soalnya di google atau beli buku terkait Tes Potensi Akademik. Sebenarnya ketika Tes Potensi Dasar ini gue mengerjakannya sambil curi-curi waktu karena kebagian jadwalnya di hari kerja. But yeahh i guess it's part of the challenge.


Apabila di tahapan sebelum-sebelumnya gue masih banyak menggunakan kata "lumrah", maka di tahapan ini untuk pertama kalinya kata lumrah tersebut menghilang. TPU, TPK, dan TBI merupakan a whole new set of test bagi gue. Sebenarnya TBI engga, tapi dua lainnya iya. Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue mendaftar ini karena FOMO dan bisa dibilang iseng. Tapi ketika memasuki tahap ini, gue merasa tertantang. Gue sadar dengan background pendidikan gue yang bukan dari ekonomi, gue merasa harus melakukan extra effort. Gue belajar dari soal-soal tahun lalu dan juga dari website official Bank Indonesia. Buat kalian yang juga bukan dari latar belakang ekonomi, kalian harus sadar kalau kalian tidak akan bisa menyaingi mereka yang memang memiliki background ekonomi, sehingga saran gue adalah kalian lebih baik belajar "model soal", mengingat gap waktu antar testnya cukup singkat. Oh iya, gue mendapatkan contoh-contoh soal tersebut lewat group telegram PCPM (unofficial). Gue sangat merekomendasikan kalian untuk join group serupa. Ketika mengerjakan tes, sejujurnya gue cukup yakin. Bukan karena gue jago ekonomi, tapi karena contoh-contoh soal tersebut ternyata banyak yang keluar dan kebetulan gue masih mengingatnya. Untuk tes bahasa inggrisnya juga basic tes TOEFL dan tidak terlalu sulit.

Beberapa minggu berselang, gue mendapat pengumuman bahwa gue lolos tes TPU, TPK, dan TBI. Pada paragraf sebelumnya gue memang mengatakan bahwa gue cukup yakin dalam mengerjakan tes, tetapi sejujurnya gue sudah ikhlas kalaupun tidak lolos — karena pikiran gue orang-orang lain dengan background ekonomi pasti lebih merasa mudah ketika mengerjakan dibandingkan gue. Tahapan ini bisa dibilang juga sebagai turning point gue dari yang sebelumnya iseng-iseng mendaftar, menjadi cukup serius karena berpikir bahwa gue ternyata bisa bersaing melewati tes yang "ekonomi" banget.


Buntut dari keseriusan yang gue sebutkan di paragraf sebelumnya, pada tahapan ini gue cukup mempersiapkan banyak hal. Tes Psikologi PCPM terdiri atas 3 subtes: Tes Koran & psikologi, Roleplay Group Discussion (RDG), dan Interview Psikologi. Gue akan coba bahas tiap subtes satu per satu.

Tes Koran & Psikologi: Tes ini terdiri atas dua bagian, yaitu pertanyaan-pertanyaan psikologis, dan juga tes Koran. Pertanyaan psikologis dirancang untuk mengulik kepribadian kalian, seperti kalian lebih suka bekerja sendiri atau tim, dan juga apakah kalian lebih mementingkan kepentingan kelompok atau pribadi. Basic. Untuk tes koran, ini sebenarnya tes yang baru bagi gue. Pada PCPM 38, kita harus menentukan apakah sebuah hasil penjumlahan berakhiran angka genap atau ganjil. Misal "37+38", Apabila hasilnya ganjil kita harus memilih 1, jika genap kita harus memilih 0. Tetapi bukan ini yang bikin susah, melainkan akan ada 100 soal dengan waktu 1 menit — dan ini diulang sebanyak sekitar 30 kali lebih. Jadi, technically ada sekitar 3000-an soal. Beruntungnya, gue cukup lihai walaupun ini kali pertama mengerjakannya. Gue hampir berhasil mengerjakan semua soal. Seinget gue, hanya sekitar dua part dimana gue tidak menjawab keseluruhan 100 soal, melainkan hanya 97 atau 98 saja.

Roleplay Group Discussion (RGD): Tes ini sepertinya sudah cukup lumrah bagi sebagian orang. Kita akan diberikan topik dan peran spesifik pada sebuah perusahaan, dan nantinya kita bersama dengan kelompok harus memberikan pendapat untuk dapat menyelesaikan masalah  yang dihadapi. Oh iya, sebelum diskusi dimulai, kalian akan diminta membuat slide singkat terkait apa solusi yang kalian dapat berikan dan nantinya slide ini akan dikumpulkan ke panitia. Jujur gue sampai sekarang masih tidak mengetahui bagaiman penilaian pasti untuk tahapan group discussion. Sebagian orang beranggapan kita harus aktif, sebagian beranggapan jangan terlalu aktif karena akan terlihat mendominasi. Tetapi bagi gue, kalian cukup menjadi diri sendiri saja. Ketika RGD kemarin, gue tidak berusaha terlihat sangat aktif seperti menjadi moderator atau notulen. Gue mencoba berbicara seperlunya, tetapi berbobot. Lalu menaruh perhatian pada hal-hal kecil yang kelompok kadang lupakan. Berikut gue lampirkan contoh slide yang gue buat ketika seleksi.


Wawancara Psikologi: Jujur gue agak over prepared untuk wawancara ini. Gue expect akan diwawancarai oleh pihak BI dan akan menyinggung beberapa hal terkait ekonomi—tetapi nyatanya tidak. Interviewer yang mewawancarai kita merupakan pihak ketiga yang di-hire oleh BI, jadi pertanyaan yang ditanyakan benar-benar hanya terkait kepribadian dan pekerjaan, sama sekali tidak ada kaitan dengan perekonomian. Tidak ada trick khusus untuk wawancara, karena sama seperti wawancara pada umumnya. 

Setelah menjalani serangkaian Tes Psikologi yang cukup panjang ini, bisa dibilang gue cukup yakin akan lolos. Bukan sombong, melainkan percaya diri. Setelah menunggu beberapa minggu, ternyata benar saja, gue dinyatakan lolos. Sampai dengan tahap ini, jumlah peserta yang tersisa rasanya sudah mulai mengerucut. Jika tebakan gue benar, mungkin yang lolos Tes Psikologi dan melaju pada tahap Kesehatan hanya sekitar 800-1000 peserta.


Tahapan kali ini merupakan tahapan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Apabila pada tahapan sebelumnya kalian bisa mengendalikan dan mempersiapkan, pada tahapan ini kalian hanya bisa pasrah. Sebenarnya bisa kita kontrol dan persiapkan, tapi hanya sedikit saja. Tahapan tes ini terdiri atas 2 subtes, yaitu Tes Kesehatan dan Tes Psikiatri.

Tes Kesehatan: Bagi kalian yang sudah pernah bekerja atau magang, pastinya kalian sudah tidak asing dengan tes ini. Tes ini biasa juga disebut dengan MCU. Namun ada sedikit perbedaan. Apabila biasanya MCU dilakukan apabila kalian telah dinyatakan lolos dalam proses rekrutmen, di PCPM ini MCU justru dilakukan satu step sebelum tahap Seleksi Akhir. Tes Kesehatan ini mencakup test darah, urin, EKG, mata, rontgen thorax, dan dokter umum. Tips untuk melalui Tes Kesehatan ini cukup mudah, yaitu menjadi sehat. Kalian bisa menjaga makan beberapa hari sebelum MCU dilakukan, dan juga melakukan olahraga ringan. 

Tes Psikiatri: Mirip dengan Tes Psikologi, Tes Psikiatri bertujuan untuk mengetahui sisi kejiwaan seseorang apakah dia cocok untuk masuk di lembaga ini. Ini juga merupakan Tes Psikiatri pertama bagi gue, jadi gue tidak bisa terlalu berkomentar banyak. Tes ini terdiri dari 567 pertanyaan yang harus kalian kerjakan selama 60-90 menit di Lembar Jawaban Komputer (LJK). Ya, pegel tuh tangan. Menurut gue juga tidak ada trik khusus pada Tes Psikiatri. Cobalah untuk mengerjakan secara konsisten karena nanti akan ada pertanyaan berulang yang serupa ataupun menyerupai dan apabila kalian tidak kosisten dalam menjawab besar kemungkinan akan mempengaruhi penilaian nantinya.

Dari seluruh rangkaian tes PCPM, menurut gue tahapan ini merupakan yang paling tricky. Pertama, tidak seperti tahapan lain yang kalian bisa persiapkan dan kontrol, tahapan ini bersifat subjektif, dalam artian kalian tidak tahu parameter apa yang bisa membuat kalian lolos. Banyak sekali asumsi-asumsi yang bermunculan di tahapan ini, seperti misalnya di Tahapan ini tidak hanya menyeleksi kesehatan dan psikiatri, tetapi merupakan akumulasi dari hasil tes-tes sebelumnya juga. Well, gue sejujurnya percaya ga percaya juga. Karena tahapan ini memangkas dari sekitar 1000 menjadi hanya 215 peserta yang melaju ke tahap akhir. Apakah tandanya 785 orang lainnya "tidak sehat baik mentally ataupun physically?" atau mereka "kurang sehat?" Kembali lagi, kita hanya bisa berasumsi karena penilaian hanya diketahui oleh panitia. Bahkan gue pribadi sudah sangat ikhlas apabila tidak lolos di tahapan ini. Karena seperti yang gue bilang, kita ga terlalu punya banyak kontrol di tahapan ini, sehingga lebih baik perbanyak doa saja. Alhamdulillah, gue dinyatakan lolos di tahapan ini dan melaju ke Tahapan Seleksi Akhir. 


Tahapan Seleksi Akhir di PCPM mengusung konsep Town Hall Meeting (THM). Mungkin sebagian dari kalian sudah mengetahui apa itu THM. Biasanya, THM digelar oleh perusahaan/ lembaga sebagai wadah untuk pemberian informasi dari pemangku kekuasaan ke seluruh stakeholder perusahaan. Namun THM di tahap seleksi ini kebalikannya, kami anak-anak bau kencur-lah yang akan mempresentasikan dan menanggapi topik-topik seputar ekonomi kepada Anggota Dewan Gubernur (ADG) dan Asisten Gubernur (AG) Bank Indonesia. Pada PCPM 38, THM dilaksanakan pada hari Senin, 18 Desember 2023. Namun sebelum itu, ada pre-THM selama dua hari di hari Sabtu dan Minggu sebagai pembekalan sebelum kami berhadapan dengan para ADG. 

Pre-THM: Sabtu, 16 Desember 2023, kami berkumpul di Millenium Hotel Sirih Jakarta. Pihak Bank Indonesia menyediakan tempat untuk menginap selama 4 hari 3 malam, tetapi untuk akomodasi ke lokasi ditanggung masing-masing peserta. Kami disambut oleh pihak SDM Bank Indonesia disertai dengan overview program PCPM. Setelah itu, hari pertama dipenuhi dengan pemberian materi oleh berbagai narasumber yang merupakan direktur atau manajer di Bank Indonesia. Bagi gue seorang anak teknik, hari pertama cukup melelahkan karena jadwal materi yang cukup padat dan tentunya materi yang cukup asing bagi gue seperti misalnya makrorpudensial, moneter, kredit, dll. Di penghujung Pre-THM hari pertama, kami diberikan teknis pelaksanaan THM untuk hari senin serta dibagikan kelompok beserta role dan topic yang nantinya akan kita bawakan nantinya. Untuk memberikan gambaran, pada PCPM 38 ini kami dibagi ke dalam 10 kelompok dengan 5 topik. Dua kelompok mendapatkan topik yang sama, taetapi dengan sudut pandang yang berbeda, yaitu Affirmative dan Improvement.  Ada dua role yang disediakan dan diberikan secara random, yaitu Presenter dan Penanggap. Apabila kalian mendapatkan role Presenter, kalian harus mempresentasikan sebuah topik selama 90 detik. Pun begitu, apabila kalian mendapatkan role Penanggap, kalian harus menanggapi pertanyaan dari ADG ataupun AG selama 90 detik. Proporsi presenter dan penanggap seimbang ya, 10-10 per kelompok. Gue termasuk sangat beruntung karena tergabung di kelompok 1, dengan role Presenter, dan juga topik terkait UMKM (ga terlalu ekonomi). Jadilah hari pertama ditutup dengan pertemuan kelompok untuk membuat yel-yel serta pembahasan singkat terkait materi yang akan dipresentasikan.

Minggu, 17 Desember 2023, kami memulai Pra-THM hari yang  ke-2. Hari ini jadwalnya tidak sepadat kemarin. Acara pertama dibuka dengan materi terkait public speaking oleh Indy Barends. Ya, Indy Barends yang di Cerirwis. Setelah selesai, dilanjutkan dengan materi singkat dari Direktur SDM Ibu Idah dan juga Pak Faris. Memasuki sekitar jam 11, kami dimobilisasi untuk melihat stage yang akan kami gunakan besok ketika THM. Kami berjalan kaki karena ternyata lokasi hotel yang kami tinggali sangat dekat dengan kantor pusat Bank Indonesia. Kami berbaris rapi memasuki gedung Bank Indonesia, menuju ruang Chandra. Banyak dari peserta ber-swafoto di komplek gedung BI, tetapi gue tidak. Gue cukup percaya diri kala itu dan berpikiran "Buat apa foto-foto sekarang kalau nanti akan menginjakkan kaki di gedung ini setiap hari." Becanda ya, hehehe. Singkat cerita, gladi resik selesai, kami diarahkan kembali menuju hotel untuk mendapatkan materi terakhir seputar organisasi. Setelah materi terakhir selesai, kami diberikan waktu bebas untuk menyelesaikan persiapan presentasi kami bagi role presenter, dan mempersiapkan possibility question bagi role penanggap. Gue cukup bersyukur berada di kelompok 1 dengan para anggotanya yang sangat supportif dan enak diajak berdiskusi. Power point kelompok kami akhirnya rampung pada jam 10 (sesuai deadline), lalu gue melanjutkan aktivitas dengan menghapal script untuk besok. 

THM: Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Gue hanya tidur sekitar dua jam karena sibuk mempersiapkan diri. Nampaknya banyak peserta yang juga demikian, karena ketika sarapan gue bisa melihat kantung mata yang cukup tergambar jelas di mata para peserta. Sekitar jam setengah 7 kami sudah diarahkan untuk jalan menuju kantor pusat BI. Sebelum memulai acara inti, ada sambutan dan ice breaking yang dilakukan oleh Bapak Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia. Kami bahkan sempat sing a long lagu Yellow yang dipandu oleh Mas Arief Rahman. Bapak Perry juga memberi tahu apa saja aspek yang dinilai nantinya. Ada beberapa poin yang gue inget, pertama ialah kemampuan leadership yang tercermin dari rasa percaya ketika berbicara entah itu presentasi ataupun menanggapi. Kedua, straightforward. Waktu yang disediakan untuk kedua role sama, yaitu 90 detik. Dengan waktu sesingkat itu kita diharapkan mampu mengemas apa yang ingin kita sampaikan dengan ringkas dan baik. Banyak peserta yang overtime kemarin, namun tidak diberhentikan karena itu merupakan aspek penilaian juga. BI juga memiliki sebuah konsep yaitu trick of three, yaitu dimana kita mengemas bahasan ke dalam 3 poin penting. Terakhir yang gue inget adalah the power of we, yaitu semacam jargon yang dimiliki BI yang intinya adalah wujud dari sinergi dan kolaborasi ketika bekerja berkelompok. Sebenarnya ada 5 poin yang disampaikan kemarin, tapi gue lupa. Intinya di fase ini para ADG lebih ingin melihat kemampuan leadership kita dan bagaimana kita dapat menyampaikan pendapat atau gagasan dengan baik dan tidak bertele-tele.

Kembali ke presentasi. Sebagaimana yang gue bilang, gue tergabung di kelompok 1, yang berarti kelompok gue adalah kelompok pembuka dalam acara ini. Bagi gue ada plus minusnya menjadi kelompok pembuka dalam acara seperti ini. Poin plusnya adalah tidak ada benchmark penampilan yang membebani kami. Instead, kamilah yang menjadi benchmark bagi kelompok lain. Kami jujga masih berada dalam kondisi fresh karena presentasi pertama tersebut. Kami pun akhirnya tampil. Semua berjalan lancar sebagaimana yang sudah direncanakan sebelumnya. Bagi gue sendiri, entah mengapa gue sangat tenang ketika memaparkan presentasi. Sedikit ada rasa deg-degan, namun nampaknya rasa percaya diri gue lebih bergejolak dan berhasil menghempas segala perasaan tidak yakin yang ada. Sekitar 30 menit berselang, kelompok kami selesai. Jika tadi gue sudah menyebutkan poin plus sebagai penampil pertama, maka poin minusnya adalah kami harus menunggu sampai semua penampilan selesai, yang mana seluruh acara berakhir sekitar jam 5. Yaa gapapa sih, karena kebetulan teman-teman yang tampil setelah kelompok kami keren-keren sehingga kami juga bisa belajar banyak dari materi mereka.


Banyak sekali hal yang gue pelajari selama proses rekrutmen PCPM yang bisa dibilang cukup panjang ini. Gue belajar bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Walaupun kalian tidak memiliki background ekonomi, selama kalian berusaha dan belajar kalian tetap dapat bersaing. Ketika Tes Kesehatan dan juga Seleksi Akhir, gue juga bertemu banyak sekali orang dengan latar belakang berbeda-beda. Ada yang dari PTN ternama, ada yang dari kampus swasta, ada yang sudah mencoba PCPM 3 kali sampai 4 kali, ada yang baru pertama kali mencoba. Ada yang belum bekerja, ada yang sudah bekerja di perusahaan ternama atau bahkan ada juga yang sudah berstatus sebagai staff BI. Hal ini menunjukkan bahwa lolos PCPM tidak serta-merta soal kompetensi dan kemampuan substantif, melainkan ada faktor lain juga seperti rezeki dan doa dari orang sekitar. 

Selain itu, Tes Kesehatan dan Psikiatri menurut gue menjadi kunci dari seluruh rangkaian tes. Apabila kalian sudah lolos Tes Kesehatan dan Psikiatri, maka kemungkinan kalian lolos adalah 70%, karena pada seleksi tahap akhir ada 215 peserta dan yang akan diambil sekitar 150-an. Ketika ngobrol dengan beberapa peserta yang sudah mendaftar PCPM 2 - 3x, rata-rata mereka gagal di tahapan Kesehatan ini. Seperti yang sudah gue bilang sebelumnya juga bahwa memang tahapan ini merupakan pemotongan peserta terbanyak dari sekitar 1000 ke 200, dan juga kita tidak bisa mengontrol banyak hal di tahapan ini.

Bagi kalian yang ingin mendaftar PCPM, atau yang sudah mendaftar namun masih belum berhasil dan ingin mencoba lagi, gue cuma bisa bilang semangat. Kita semua memiliki kesempatan yang sama untuk bisa menjadi bagian dari Bank Indonesia lewat program ini. Persiapkan hal-hal yang bersifat substantif tanpa mengesampingkan doa. Pun apabila kalian belum beruntung dan tidak diterima, tidak usah kecewa. Setiap orang memiliki rezeki dan waktunya masing-masing. Mungkin juga waktu kalian belum sekarang atau memang bukan di sini. Terakhir, gue merasa ada dua jenis orang yang bisa lolos PCPM. Pertama, sudah jelas, seseorang yang memiliki kemampuan substantif ataupun intrapersonal yang baik. Kedua, yaitu seseorang yang biasa aja namun hoki. Tentunya gue termasuk ke dalam contoh yang kedua. ))





Comments

Post a Comment

Popular Posts