"The past feel distant even when it is near, and the future seems assured — even though it is not"The quote above doesn't relate with any of the writing below. I just wrote it there because I happened to remember it.
Kemampuan memahami sebuah konteks merupakan modal yang menurut gue wajib dimiliki oleh semua manusia. Lebih jauh lagi, pemahaman tersebut akan lebih afdal apabila dibarengi dengan kemauan untuk melihat sebuah konteks/permasalahan dari berbagai sudut pandang. Beberapa hari lalu, gue membaca sebuah infografis di X terkait background pendidikan masyarakat Indonesia. Jumlah masyarakat yang menyandang gelar Sarjana hanya sekitar 4%, sedangkan pendidikan setingkat Doktoral lebih sedikit lagi, yakni kurang dari 0,001%. Bahkan, gue yakin dari 4% tersebut belum semuanya paham ilmu untuk memahami konteks—apalagi 90% sisanya. Lantas, apa sih yang membuat kemampuan ini begitu penting?
Setiap hari manusia pasti menerima berbagai informasi—baik yang kita terima sendiri, ataupun yang diterima dari orang lain. Terlebih lagi di era serba digital seperti sekarang, dimana berita atau informasi dapat dengan mudah dan cepat dipertukarkan. Maka dari itu, sangat penting untuk kita dapat mencerna dan memilah berbagai informasi tersebut dengan baik agar tidak terjadi misinformation—atau bisa jadi informasinya tepat, tetapi kita melihatnya dengan sempit. Untuk memudahkan, mari kita gunakan sebuah contoh.

Apabila dibaca sepintas, akan banyak simpulan yang didapat dari tulisan tersebut. Sebagian bisa menyimpulkan bahwa KCIC Jakarta-Bandung merupakan projek yang gagal. Terlebih lagi, dengan dukungan dari foto yang dilampirkan penulis semakin menguatkan bahwa kereta ini memang kosong dan tidak memberikan timbal balik investasi yang setimpal dengan biaya pembuatannya. Sebenarnya tidak ada yang salah juga dari tulisan tersebut karena si penulis juga hanya menyampaikan pendapatnya. Tentunya, pendapat itu keabsahannya sangat lemah, terlebih lagi pendapat netizen random di sosial media.
Dikarenakan pendapat memiliki keabsahan yang sangat lemah, kita sendiri-lah yang harus menganalisa sebuah informasi. Pada contoh di atas, ketika si penulis mengatakan kondisi kereta sangat sepi, kita harus mencoba mencari sudut pandang lain. Apakah kereta itu sepi karena foto itu diambil pada weekday dan di jam yang memang orang tidak banyak menggunakan kereta? Atau apakah foto tersebut diambil di salah satu gerbong dan ternyata di seluruh gerbong lainnya kursinya terisi penuh? Atau yang kemungkinannya paling kecil, apakah foto tersebut hasil editan?
Pertanyaan tersebut tak serta-merta harus terjawab—karena informasi tersebut tidak tertera pada tulisan, dan juga hanya diketahui oleh si pemberi informasi. Hal yang perlu digarisbawahi adalah perluasan sudut pandang ketika menerima informasi terkait kereta cepat tersebut. Sekali lagi, gue mau kita tidak mudah percaya ketika menerima sebuah informasi dan menerapkan prinsip dasar filsafat: penasaran. Mengapa penulisnya menulis demikian? Apa latar belakang penulisnya? Apakah dia memiliki motif atau kepentingan tersendiri? Dan lain-lain. Tentunya tidak setiap hal harus kita curigai seperti ini, gue percaya kita bisa menyesuaikan kadar penasaran tersebut tergantung dari jenis informasinya.
Kita tidak bisa mengendalikan pendapat yang orang lain utarakan, namun kita dapat mengendalikan informasi yang diterima oleh diri kita. Mungkin kalian masih ingat dulu ada sebuah kasus yang cukup menggemparkan yaitu #JusticeForAudrey—dimana seorang anak bernama Audrey berhasil membohongi jutaan masyarakat Indonesia dan memperoleh simpatik hingga donasi. Memperluas sudut pandang tidak terbatas hanya pada konteksnya, melainkan juga pada si pemberi konteks.
Gue pribadi menganut prinsip untuk menerima informasi dari berbagai stream. Ben Sapphiro, Denny Siregar, Satria Mahatir, Abu Janda, you name it. Orang-orang tersebut mungkin dianggap nyeleneh dan ngaco oleh beberapa orang, tapi gue tidak membatasi diri gue untuk menyimak atau sekadar melihat akun publik figur tersebut. Karena sejatinya, pasti ada hal yang bisa dipetik dari siapapun itu yang mampu memperkaya sudut pandang.
Comments
Post a Comment