Paradox of Empathy
![]() |
| (source:https://ro.pinterest.com/pin/372391462951670069/) |
Satu dari sekian banyak hal yang dapat membedakan satu manusia dengan manusia lainnya adalah empati. Menggunakan definisi gue, empati adalah kemampuan untuk memahami kondisi suatu hal dan membayangkan "kalau gue di posisi itu gimana ya?" Sebenarnya, inti dari empati adalah memahami kondisi, bagian membayangkannya opsional. Karena nyatanya kita bisa saja berempati tanpa membayangkan dan juga bisa saja membayangkan tanpa berempati.
Manusia yang memiliki rasa empati tinggi cenderung bijak dalam bersikap, karena paham bahwa sebuah tindakan akan memiliki dampak tidak hanya kepada diri sendiri, melainkan juga ke orang lain. Empati merupakan sebuah kemampuan atau naluri yang terkadang kita tidak rasakan, tetapi kita berikan. Sama seperti kemampuan atau perasaan lainnya, empati juga dapat dilatih. But that should be for another topic, because in this post i want to write about the Paradox of Empathy.
Mungkin gue akan coba mulai dengan contoh sederhana yang rasanya semua manusia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya sepakat untuk berempati: Tsunami Aceh 2004. Well actually it's Indian Ocean Tsunami but since Aceh got impacted the most we can just simplified it as Tsunami Aceh. Bencana alam ini memakan 200 ribu lebih korban jiwa, ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal dan seluruh harta bendanya, dan meluluhlantakkan seluruh kota. Rasanya mayoritas orang sepakat untuk berempati pada kejadian ini. Terbukti, sampai sekarang tanggal 26 Desember selalu dikenang, seolah menjadi hari duka bagi seluruh masyarakat Indonesia. Sekarang, coba kita bandingkan dengan erupsi Gunung Merapi tahun 2010, sebuah bencana yang juga cukup terkenal dengan kasus "Mbah Marijan".
Statisically speaking, jumlah korban Merapi memang jauhh lebih sedikit dibandingkan dengan tsunami Aceh. Kerusakan yang ditimbulkan juga tidak seluas dan seserius yang terjadi di Aceh. Dengan demikian, apakah bisa dikatakan bahwa empati yang diberikan pada erupsi Merapi < tsunami Aceh? Jawaban singkat gue iya. Berbekal dua contoh di atas saja, gue bisa menyimpulkan that empathy does not come from a pure feelings and equality. Instead, it depends on something.
Dalam contoh bencana alam tadi, banyaknya korban serta keparahan dampak yang ditimbulkan menjadi pembedanya. Kita juga bisa mengambil contoh lain, misalnya ketika mendengar kabar bahwa seseorang jatuh sakit. Ketika penyakitnya adalah batuk, pilek, ataupun demam, kita cenderung akan bersikap acuh tak acuh, mungkin berpikir "Nanti juga akan sembuh sendiri". Tetapi, ketika mendengar bahwa penyakitnya adalah kanker, atau tumor, atau penyakit parah lainnya, kita pasti cenderung menaruh empati lebih, bahkan terkadang membayangkan bagaimana jika kita yang mengalami hal serupa. Sampai di sini, bertambah satu variabel "something" pada empati, yaitu severity.
Let's move on to another habit that most of us consider trivial but may not be: killing animals. Tenang, yang gue maksud di sini membunuh hewan-hewan kecil, mostly serangga. Tapi sebenarnya dengan kalimat sebelum ini dimana gue mencoba untuk menjelaskan, itu sudah merupakan sebuah paradoks karena berarti kita lebih fokus ke "hewan" nya instead of "membunuh" nya.
Lanjutt. Pastinya, kita semua pernah membunuh hewan, mulai dari hewan ternak (jika kalian tukang jagal), atau yang paling simpel yaa beberapa serangga seperti nyamuk, lalat, kecoa, semut, ataupun lainnya. Apakah kalian merasa berdosa ketika melakukannya? Atau paling tidak berempati kepada hewan-hewan tersebut?
Mungkin sebagian orang akan menjawab iya, tapi tak banyak juga pasti yang tidak, termasuk gue. Alih-alih bersimpati, terkadang gue malah merasa puas ketika membunuh hewan-hewan tersebut yang gue anggap sebagai pengganggu. Apakah karena membunuh heawan kecil merupakan kegiatan yang banyak dilakukan oleh orang sehingga kita menjadi maklum dan merasa terbiasa?
Ataukah karena kita menganggap mereka pengganggu jadi kita merasa berhak untuk membunuhnya? Padahal jika kita pikir-pikir, apapun itu alasannya, membunuh hewan sekecil semut dan sebesar gajah merupakan kegiatan yang sama, yaitu membunuh hewan. Lantas mengapa pertimbangan dan pemakluman yang dirasakan berbeda? Berangkat dari hal ini, gue bisa bilang ada variabel baru lagi pada empati, yaitu size and habit.
Ada satu lagi variabel terakhir yang ingin gue bahas dan ini merupakan kombinasi dari 2 variabel yang sudah kita bahas sebelumnya. Langsung saja, variabel tersebut adalah closeness (im not sure if this is a suitable word, but i believe you will get the point after reading the rest of the writing). Both severity and size & will not be applied if this closeness variable is present. Imagine if you have a family or a lover one who falls ill. You shoould not wait for the ilness to become severe before showing empathy. Even if your loved one has a mild ilness like the flu or a cough, it's very natural to feel concerned.
Same condition applied to the second variable: size and habit. Let's pretend that you have a small fish as a pet. You definitely won't kill it or even hurt it. But if you find youself in a sea or lake and you encountered a small fish, you might be inclined to catch or even eat it without many consideration. Paradox isn't?
Tanpa kita sadari, dalam kehidupan sehari-hari kita sering sekali memberikan standar ganda terhadap berbagai hal. Dalam konteks empati, kita sering kali menetapkan standar ganda terhadap sesuatu atau seseorang yang kita anggap lebih berharga bagi kita. Tentunya tidak ada yang salah dari hal tersebut. Karena memang kita memiliki hak prerogatif untuk menentukan apa-apa saja yang ingin kita dahulukan atau kita pilih. Gue hanya suka saja untuk mengulik hal-hal seperti ini karena memang sifat manusia itu tidak ada yang textbook dan tidak bisa di-dikte.
Dari hal ini gue juga jadi bisa belajar untuk tidak mengatakan "Dasar lu manusia nir-empati, atau bahkan ga punya empati" kepada orang lain. Karena mungkin saja variabel-variabel yang sudah kita bahas kali ini memang tidak terpenuhi bagi orang tersebut. ))



Comments
Post a Comment