Manado
Tidak pernah terbayangkan bagi gue untuk dapat menyambangi sebuah kota yang berada di ujung utara Indonesia. Sebuah kota yang sering gue dengar tapi tak pernah terbayang akan menginjakkan kaki—apalagi menghabiskan waktu cukup lama. Sebuah kota yang dikepung oleh laut di sebelah utara dan barat dengan segudang keindahan alamnya.
Kota tersebut adalah Manado. Sebagai seseorang yang baru pertama merantau ke luar pulau, tentunya banyak keresahan yang gue rasakan. Tak bisa dipungkiri juga bahwa lahir dan besar di Jakarta ternyata kurang dapat menempa mental dan kesiapan gue. Di sini, gue akan coba berbagi pengalaman sekaligus merangkum beberapa hal yang gue rasakan selama kurang lebih dua bulan bermukim di Negeri Nyiur Melambai.
Geografis & Lokasi
Jarak dari Jakarta ke Manado kurang lebih 3000 km. Dulu, ketika gue kuliah di Institut Pertanian Bogor, gue mengira bahwa jarak Jakarta Bogor itu sudah jauh. Tapi sekarang, jarak tersebut seakan tidak ada apa-apanya. Dulu, ketika gue merindukan keluarga dan ingin pulang ke rumah, gue hanya perlu naik kereta atau naik kendaraan pribadi untuk dapat pulang. Tapi sekarang, gue harus merogoh kocek lebih dari 5 juta rupiah untuk dapat sekadar melepas kangen ke rumah.
Tetapi, dulu, pemandangan sehari-hari gue didominasi oleh gedung-gedung tinggi, paru-paru gue dipaksa menghirup polusi, dan sering dihadapkan pada kondisi macet yang menguras tenaga. Sekarang, gue hanya perlu berjalan kaki beberapa saat untuk dapat melihat pemandangan yang indah, menghirup udara segar, serta melihat bentang alam yang menakjubkan bertebaran di mana-mana.
Provinsi Sulawesi Utara mencakup 11 Kabupaten dan 4 Kota dengan ibu kotanya terletak di Kota Manado. Selama gue berada di sana, bisa dibilang gue cukup beruntung karena berkesempatan menyambangi berbagai Kota/Kabupaten, di antaranya: Kota Manado, Kota Bitung, Kota Kotamobagu, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Sitaro (Pulau Siau), dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Lansekap yang dimiliki daerah-daerah di Sulawesi Utara sangatlah menakjubkan. Dataran rendah untuk bercocok tanam berada di Kotamobagu dan daerah Bolaang Mongondow, dataran tinggi yang sejuk nan dingin terletak di Tomohon, keindahan bawah laut yang menakjubkan terdapat di Kepulauan Sitaro dan Bunaken, dan tentunya Manado dengan gemerlap sebuah ibu kota tetapi dihiasi oleh garis pantai yang membuat mata enggan berkedip.
Budaya (Bahasa & Kuliner)
Sebagai seorang keturunan suku Jawa, Budaya di Sulawesi tentunya sangatlah berbeda dan juga mengagetkan pada awalnya. Di Sulawesi, khususnya di bagian Utara, orang berbicara dengan lantang serta tidak terlalu suka basa-basi. Orang-orang di sini juga tidak terlalu suka bahkan cenderung tidak mau apabila dipanggil Mas/Mba, sebuah panggilan yang sangat lumrah di Pulau Jawa. Mereka lebih suka dipanggil Pak/Bu, atau Kak. Bahkan, beberapa orang asli sini memanggil dengan sebutan "cewe" dan "cowo".
Selain perbedaan kata sapaan, there are lot of discrepencies between bahasa Manado dan Bahasa Indonesia pada umumnya. Tetapi, itu bukan hal yang mengagetkan, karena tentunya tiap daerah punya keunikannya masing-masing. Hal yang mengagetkan di sini adalah maraknya penggunaan Bahasa Manado yang bahkan seakan mengalahkan penggunaan Bahasa Indonesia. Tak jarang juga ketika berkomunikasi dengan pelayan, atau bahkan anak muda dalam lingkup formal mereka tidak menggunakan Bahasa Indonesia bahkan cenderung kesulitan berkomunikasi dengan Bahasa Persatuan tersebut. Not trying to find someone to blame here, just wanna share the reality.
Masyarakat Sulawesi Utara juga terbagi menjadi dua kluster dalam hal agama. Wilayah bagian barat seperti Kotamobagu dan Bolaang Mongondow mayoritas masyarakatnya beragama Islam, sedangkan bagian timur yang meliputi Tomohon dan Minahasa Raya mayoritas beragama Kristen. Mungkin ini juga menjadi salah satu alasan mengapa Provinsi Gorontalo mekar dan memisahkan diri dari Sulawesi Utara. Sebenarnya, kebudayaan Sulawesi Utara sangatlah menarik, misalnya penggunaan kata "rica" yang dalam Bahasa Spanyol berarti "kaya". Pengaruh ini mungkin saja terbawa mengingat Filipina merupakan bekas jajahan Spanyol, dan dikabarkan juga Masyarakat Sulawesi Utara banyak yang mengalami akulturasi dengan Filipina. Salah satu fascinating fact tentang Sulawesi Utara juga terkait gugus Kepulauan SITARO (Siau, Tagulandang, Biaro) serta Kepulauan Talaud yang dikabarkan menjadi salah satu tempat pertama yang disambangi penjajah ketika masuk ke Indonesia dan merupakan salah satu tempat di mana Agama Kristen pertama disebarkan di Nusantara.
Terkait kuliner, Sulawesi Utara juga menyajikan berbagai jenis kuliner yang cukup mengagetkan bagi gue. Pertama tentunya... semua makanan di sini PEDESS. Dahulu gue berpikir orang Minang merupakan ras terkuat untuk makan pedas, tapi ternyata pas gue ke Manado hal itu terpatahkan. Orang Manado pada khususnya dan masyarakat Sulawesi Utara pada umumnya sangat suka dengan masakan pedas yang mereka sebut "rica" ini. Semua makanan dibuat bumbu rica—ayam, ikan, daging, telur, apapun itu dibuat bumbu rica. Sebagai keturunan jawa yang identik dengan suka makanan manis (ga berlaku di gue sebenarnya) kehadiran bumbu rica di mana-mana ini cukup menyiksa gue. Terkadang bahkan gue tidak menghabiskan makanan yang gue pesan hanya karena makanan itu terlalu pedas. Bahkan dua minggu pertama gue di Manado hampir setiap hari gue harus merasakan yang namanya sakit perut. Meskipun demikian, harus gue akui masakan Manado itu enakk sekali (kecuali Tinutuan). Campuran rempah berpadu dengan sangat baik. Bahkan, ada satu jenis bumbu yang rasanya sangat khas dan hampir ada di seluruh masakan Manado yang sampai saat ini gue belum tau itu apa. Sebagai pencinta ikan, gue juga bersyukur karena melimpahnya jenis ikan yang bisa dimakan. Also, i had my first tuna's jaw while in Bitung!!
Pengalaman
Kembali ke asal mula cerita, sebenarnya kehadiran gue di Manado ini merupakan tuntutan pekerjaan. Realita yang gue hadapi ketika awal mendarat di Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi tidak seindah ujung cerita yang nanti akan kalian dengar. Gue yang kala itu berangkat bersama dua teman yaitu Regina dan Sarniati benar-benar clueless dengan semua hal yang terjadi kala itu. Kami tiba di Kota Manado sore menjelang malan dan langsung diarahkan ke kantor untuk berkenalan dan lanjut diantar ke Rumah Dinas di daerah Tikala yang akan kami tempati selama dua bulan. Minggu pertama masuk kantor, gue langsung dihadapkan pada perjalanan dinas ke luar kota selama hampir seminggu—di mana gue juga berkesempatan untuk duduk bersandingan dengan Bupati Bolaang Mongondow Selatan. Sejujurnya, ketika di posisi itu, gue masih belum begitu paham se-prestige apa kesempatan itu sampai akhirnya banyak teman yang berkata bahwa itu merupakan sebuah momen yang besar. Hari demi hari, dinas demi dinas terlewati tanpa terasa. Banyak sekali momen-momen tercipta baik ketika bekerja di kantor ataupun melakukan perjalanan dinas. Tanpa terasa, waktu gue di Manado tidak lama lagi, kami yang semula dijadwalkan untuk pulang tanggal 14 Desember tanpa alasan yang jelas dibuat untuk pulang lebih awal pada tanggal 4 Desember. Banyak sekali rencana yang gue, Regina, dan Sarniati rencanakan sedari awal kami tiba dan sampai saat sebelum kepulangan belum terealisasi. Untungnya, di hari-hari terakhir, kami berkesempatan untuk menyambangi Pulau Siau dan juga berkeliling Kota Tomohon.
Penutup
Meskipun pada awalnya gue sangat menunggu-nunggu untuk dapat hengkang dari Manado, tetapi setelah itu terjadi gue malah sangat merindukan Manado. Banyak sekali pelajaran yang gue dapatkan Manado baik dari segi pekerjaan maupun kehidupan. Shoutout juga untuk Kak Felis, Kak Inna, Kak Vena, Mas Raja, Mas Ifan, Regina, Sarniati, Kak Okta, Steve, Om Markus, Om Dani, Kantin Pelita, terutama Mas Ircham yang telah menjadi teman serta mentor yang sangat sangat baik. Waktu yang singkat tidak membuat kenangan akan hilang dengan cepat—Manado akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati gue.
.jpeg)


.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)









.jpeg)









Comments
Post a Comment