Purbayanomics
Setelah rentetan aksi yang terjadi beberapa minggu terakhir, nampaknya Prabowo Subianto mulai melakukan pembenahan di dalam kabinetnya. Meskipun lebih banyak membenahi pilar eksekutif ketimbang legislatif, hal ini tetap patut diapresiasi, mengingat sudah adanya kesadaran terkait penyebab aksi yang dilakukan oleh masyarakat.
Dari beberapa reshuffle yang dilakukan, ada satu pergantian posisi menteri yang cukup menarik perhatian, yaitu posisi Menteri Keuangan. Sri Mulyani yang telah menduduki posisi ini kurang lebih 17 tahun dengan tiga Presiden berbeda akhirnya harus melepaskan jabatannya. Penggantinya juga tidak kalah mengejutkan, yaitu Purbaya Yudhi Sadewa. Mengejutkan di sini not in a bad way, hanya saja nama Purbaya tidak pernah digadang-gadang masuk ke dalam bursa calon Menteri Keuangan.
Dalam beberapa hari pasca pelantikannya, Purbaya banyak melontarkan statement-statement yang kontroversial. Mulai dari mengatakan gaji sebagai Menkeu lebih kecil dari Kepala LPS, menganggap cukai rokok tidak masuk akal, hingga membuat kebijakan untuk mengambil dana SAL yang mengendap di Bank Indonesia. Apabila kita telisik lebih jauh, pria yang sering dijuluki memiliki gaya kepemimpinan koboi ini sering disorot karena memiliki latar belakang pendidikan S1 Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung. Lantas, apa yang spesial?
Intermezzo yang cukup panjang ini hanyalah sebagai jalan pembuka untuk bahasan yang lebih spesifik terkait someone who has an engineering background but ended up in finance world.
History of Engineering
Engineering, atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai teknik merupakan sebuah cabang ilmu yang sudah ada sejak dahulu kala. Hal yang mendasarinya sangatlah simpel dan praktikal, yaitu kebutuhan manusia untuk bertahan hidup. Maka dari itu, ilmu teknik yang paling awal muncul adalah teknik sipil, karena berkaitan dengan kebutuhan manusia akan pembuatan tempat tinggal serta berbagai kebutuhan penunjang peradaban seperti jembatan dan bendungan.
Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu teknik terus berkembang. Jika pada abad renaissance banyak bermunculan ilmuan matematika/fisika dengan berbagai teori-teorinya, maka ketika revolusi industri dimulai cabang-cabang keilmuan teknik juga berkembang untuk mengimplementasikan berbagai teori tersebut—sehingga lahirlah berbagai keilmuan teknik-teknik baru seperti Teknik Mesin, Teknik Industri, ataupun Teknik Kimia.
Memasuki era modern seperti sekarang, keilmuan teknik jumlahnya sudah sangat banyak dan amat beragam. Tetapi, keilmuan tersebut umumnya hanya merupakan perluasan dari empat jurusan Teknik yang gue sudah sebutkan sebelumnya. In the end, all of these fields of study are rooted in the fundamental principle of engineering: solving real-world problems through the application of scientific methods.
How can an Engineer be so Agile?
Sekitar dua tahun lalu, di hari terakhir gue melaksanakan magang di Unilever, gue berkesempatan untuk melakukan 1 on 1 dialogue dengan line manager gue, Mas Icang. Ada sebuah pembahasan menarik yang hingga sekarang masih gue inget ketika berbincang dengan Mas Icang. Saat itu gue bertanya "Mas, kenapa waktu itu mau nerima saya jadi intern di sini? Padahal kan jurusan saya Teknik Pertanian, yang mana kurang terlalu linear dengan jobdesk di sini."
Mas Icang menjawab: "Salah satu alesan kuat kenapa gue nerima lu adalah karena jurusan lu teknik, regardless embel-embel apapun setelahnya. Teknik tetaplah teknik. Lu tau ga kenapa teknik itu sangat agile ketika masuk dunia kerja?" Tanya Mas Icang. " Karena teknik itu belajar terkait proses, Mas?" Jawab gue asal. "Nah! Itu lu tau. Makanya, menurut gue cara berpikir orang-orang teknik itu sebenernya bisa diaplikasikan dimana aja, terutama jurusan Teknik Kimia yang benar-benar mempelajari terkait proses secara end-to-end".
Perspektif Mas Icang tersebut sangat menarik bagi gue. Mas Icang yang memiliki latar belakang S1 Teknik Industri di ITS lalu melanjutkan S2 MBA di ITB membuat pendapat dia dapat diperhitungkan. Ketika kuliah teknik, kita memang senantiasa diuntut untuk terus mengasah kemampuan kuantitatif, utamanya untuk memecahkan masalah. Dalam dunia teknik juga terdapat beberapa mata kuliah kuncian yang sepertinya hampir semua jurusan teknik mendapatkannya, seperti Termodinamika Teknik, Mekanika Teknik, Ekonomi Teknik, dan Gambar Teknik.
Meskipun jurusan gue bukanlah "teknik" yang bisa dibilang core nya teknik, gue tetaplah mendapatkan pengembangan kemampuan kuantitatif lewat mata kuliah tadi. Selain itu, pendapat pribadi gue kenapa orang teknik bisa dibilang sangat agile ketika sudah memasuki dunia kerja adalah karena dunia kerja itu adalah tentang bagaimana kita bisa mempelajari hal-hal baru.
Selain jurusan-jurusan spesifik seperti rumpun kesehatan, menurut gue ketika masuk kerja kita semua kembali masuk ke mode default dan harus mempelajari berbagai hal dari awal. Keunggulan ini lah yang dimiliki rata-rata lulusan teknik karena mereka terbiasa dalam mempelajari berbagai hal baru di luar field mereka, ditambah lagi dengan kemampuan kuantitatif dan logika yang cukup banyak diasah ketika kuliah.
Engineer in Finance Field
While it is one thing for someone with an engineering degree to become agile in their work field, it is a different matter altogether to leverage an engineering background in the finance field.
Berbekal pembahasan pada paragraf sebelumnya, anggaplah kita sepakat bahwa dengan latar belakang teknik seseorang akan cenderung lebih mudah beradaptasi dan mempelajari hal baru utamanya yang mengandalkan kuantitatif. Lantas, apakah hal ini menjadi bekal yang cukup kuat untuk mengarungi dunia finance? Jawaban singkatnya: iya. Gue ga akan bahas dari sisi yang terlalu scientific, jadi mari kita ambil beberapa contoh sederhana.
Ketika seorang ekonom ingin melakukan proyeksi PDRB, rumus yang umum digunakan adalah Y = C + I + G + (X-M). Namun demikian, rumus tersebut tidak saklek seperti itu, banyak hal yang dipertimbangkan—seperti ekspor dan impor yang bisa saja ditiadakan, ataupun mempertimbangkan status open atau close ecomony pada sebuah negara yang akan dilakukan perhitungan.
Hal ini sama saja ketika dalam dunia teknik kita ingin menghitung gaya yang diberikan pada sebuah balok yang didorong. Terkadang, kita memperhitungkan gaya normal (N) apabila balok berada pada permukaan yang menahan gravitasi, ataupun memperhitungkan gesekan udara ketika menghitung sebuah gaya yang melawan arah geraknya.
Paragraf di atas hanyalah sebuah contoh sederhana yang menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang beririsan antara engineering dan finance yang membuat seorang dengan lulusan teknik mampu "lebih mudah" dalam mempelajari finance. Hal ini mencakup analisis kuantitatif, problem solving, manajemen risiko, serta berpikir sistematis. Banyak sekali ekonom andal yang berasal dari latar belakang teknik, meskipun tentunya lebih banyak lagi yang memang berawal dari finance itu sendiri.
Conclusion
Seluruh pembahasan di atas sama sekali tidak bermaksud untuk menunjukan superioritas antara ilmu teknik dibandingkan dengan disiplin ilmu lain. Ilmu yang kita pelajari hanyalah sebuah tools yang membantu kita dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan. Kemampuan individual tentunya sangat berpengaruh terhadap kedalaman pemahaman Anda dalam mempelajari sebuah ilmu. Terakhir, salah satu hal yang gue rasa anak teknik kurang miliki ketika masuk ke dunia finance adalah "feeling."
Jika tadi gue cukup banyak menyinggung terkait analisis kuantitatif, pada praktiknya di lapangan ilmu finance sangat lah dinamis—berbeda dengan engineering yang bisa dibilang cukup saklek. Pengalaman serta jam terbang juga sangat berpengaruh dalam dunia finance. Contoh nyatanya adalah dalam krisis-krisis besar yang terjadi di dunia. Berbagai krisis tersebut tentunya tidak dapat diprediksi oleh semua orang. Perpaduan antara kemampuan kuantitatif dan feeling lah yang membantu seorang ekonom untuk dapat membuat forecasting ekonomi dengan tepat.
Menteri Keuangan Purbaya merupakan sebuah figur menarik yang menjadi dasar pembahasan dalam tulisan kali ini. Dengan latar belakang teknik elektro ITB dan melanjutkan studi di bidang ekonomi serta pekerjaan sebagai ekonom yang sudah dilakukan selama puluhan tahun tentunya menjadikan Purbaya sebuah representasi dari anak teknik yang sukses di bidang finance. Tetapi, apakah Purbaya se-sakti itu untuk dapat menghantarkan perekonomian Indonesia ke versi terbaiknya? Let's see, it is too early to judge. Tetapi yang pasti, dia merupakan seseorang yang berani untuk mengambil risiko.



Comments
Post a Comment