Resonance
Semua benda di dunia ini memiliki frekuensi alaminya masing-masing. Mereka bergetar dalam sebuah rentang yang dipahami oleh sesama benda dengan frekuensi serupa. Apabila getaran sebuah benda diterima oleh benda lain dengan frekuensi yang sama, benda tersebut akan beresonansi dan akan membuat gelombang atau getaran dengan amplitudo yang lebih besar. Namun, apabila dua buah benda saling bergetar dengan frekuensi yang berbeda, benda tersebut tetap akan bergetar—akan tetapi dengan getaran yang bisa dibilang "terpaksa", dan umumnya akan hilang dalam rentang waktu yang relatif singkat. Lucunya, teori ini nampaknya juga diadopsi oleh manusia.
Pernah ga sihh kalian bertemu seseorang dan setelah berinteraksi beberapa waktu kalian langsung ngerasa "click" dengan orang tersebut? Sebaliknyaa, pernahkah kalian berinteraksi dengan seseorang tapi terasa sangat melelahkan dan butuh effort yang besar untuk sekadar dapat melanjutkan obrolan? Frekuensi setiap manusia lah yang menyebabkan terjadinya perbedaan tersebut.
Apabila pada benda kesamaan frekuensi akan menimbulkan resonansi yang memperbesar amplitudo, maka pada manusia konsepnya sama—tentunya dengan output yang berbeda. Efek resonansi yang dirasakan manusia lebih mengarah kepada perasaan senang dan kenyamanan. Apabila frekuensi antar manusia yang berinteraksi berbeda, dalam jangka pendek tentunya tidak akan terlalu berpengaruh. Namun dalam jangka panjang, perbedaan frekuensi ini akan menimbulkan kelelahan pada kedua pihak yang berinteraksi, dan pada akhirnya manusia akan memilih untuk berkumpul dan berinteraksi dengan sekumpulan manusia dengan frekuensi yang sama.
Meskipun menyimpan berbagai kesamaan, perumpamaan antara benda dan manusia ini juga memiliki perbedaan dalam hal toleransi. Sebenarnya hal ini wajar saja, karena kita membandingkan sesuatu yang bernyawa dengan benda mati. Ketika dua benda memiliki frekuensi yang berbeda, ya sudahh—benda tersebut tidak akan mencoba untuk menyamakan frekuensi karena memang itu di luar kapasitas mereka.
Sedangkan bagi manusia, terkadang kita masih mencoba untuk menyamakan frekuensi dengan manusia lain yang sebenarnya tidak satu frekuensi. Tujuannya pun beragam, salah satunya karena kita berada dalam situasi yang mengharuskan kita berinteraksi secara professional dengan orang tersebut. Akan tetapi kembali lagi pada hakikatnya, apabila hal ini dilakukan secara terus menerus dan frekuensi yang coba diselaraskan tidak kunjung berpadu, pada akhirnya manusia akan lelah dan kembali pada frekuensi default-nya.
Sampai di sini, mungkin kalian akan berpikiran bahwa orang-orang yang memiliki frekuensi yang "mirip" atau bahkan sama cenderung akan menjadi sahabat karib, atau bahkan pasangan. Nyatanya tidak juga. Kembali lagi, yang kita bahas kali ini merupakan makhluk bernyawa yang memiliki sifat beragam. Kesamaan frekuensi merupakan satu faktor dari berbagai faktor yang membentuk hubungan pertemanan atau pasangan. Analoginya seperti frekuensi 2000 Hz yang dihasilkan oleh piano klasikal dan frekuensi 2000 Hz yang dihasilkan oleh mesin bubut akan berbeda dari segi lingkungan, efek yang ditimbulkan, dan kebermanfaatannya. Memang, apabila kedua frekuensi ini disatukan akan tetap beresonansi—tetapi untuk apa?
Pada akhirnya, kesamaan frekuensi hanyalah merupakan satu dari sekian banyak hal yang membuat kita bisa cocok dengan sesama manusia. Dalam fisika, frekuensi juga hanya merupakan salah satu komponen dalam rumus perhitungan resonansi, yang menunjukkan terdapat beberapa faktor lain yang mempengaruhinya.
Contoh praktikal yang bisa kita ambil dalam cerita ini adalah apabila kita bertemu dengan seseorang yang kita rasa menyebalkan atau tidak cocok dengan kita. Berbekal pembahasan tadi, kita simply bisa menganggap saja mereka itu memang tidak se-frekuensi dengan kita. Orang-orang tersebut yang kita anggap tidak cocok dengan kita tentunya sangat bisa menemukan orang-orang lain yang memiliki frekuensi sama dengan mereka dan pada akhirnya berkumpul dengan mereka.
Dengan demikian, kita mungkin bisa sedikit menambah pemahaman pada pribahasa cukup terkenal yang mengatakan "Berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan ikut wangi; berteman dengan tukang besi, kita akan terkena bau asapnya"—karena sejatinya setiap manusia telah membawa produknya masing-masing untuk dijual. Dalam konteks manusia, resonansi juga dapat diartikan dengan sangat luas dan tentunya tidak statis seperti yang dituliskan pada rumus-rumus fisika.
.jpg)


Comments
Post a Comment