Genetics
(https://www.youtube.com/watch?v=5eMAmRER0y8&t=5s)
Liburan akhir tahun kali ini gue tidak pulang ke rumah. Belum adanya cuti serta tidak adanya kepentingan di Jakarta menjadi dua alasan utama mengapa gue lebih memilih menghabiskan waktu di Palu. Sebenarnya ini tidak menjadi masalah besar, karena pada dasarnya gue memang suka untuk menghabiskan waktu sendiri—dimana gue bisa melakukan dan mengatur berbagai aktivitas tanpa ada campur tangan dan gangguan dari orang lain.
Salah satu aktivitas yang gue lakukan untuk membunuh waktu selama empat hari libur ini adalah dengan menonton film. Semalam, gue kembali menonton The Greatest Showman, salah satu film favorit gue yang ternyata sudah hadir di Netflix. Hal yang menarik perhatian gue ketika menonton kembali film ini adalah terkait para performer PT Barnum yang tergabung dalam sirkus. Mereka merupakan manusia-manusia "spesial" yang memiliki perbedaan dengan manusia pada umumnya. Ada yang bertubuh sangat pendek, sangat tinggi, perempuan memiliki janggut, seseorang dengan empat kaki, dan berbagai keunikan lainnya.
Genetik merupakan hal yang memungkinkan terjadinya berbagai keunikan ini pada manusia. Pada kasus para performer di film The Greatest Showman, terdapat mutasi pada DNA yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, atau bahkan malah menyebabkan pertumbuhan rambut yang tidak semestinya, etc. Gampangnya, anggap aja DNA itu sebagai sebuah program—dan mutasi DNA ini adalah kesalahan coding pada sistem DNA.
Pembahasan terkait mutasi DNA ini sebenarnya hanya merupakan salah satu cabang dari topik utama yang ingin gue bahas pada kesempatan kali ini yaitu terkait genetik pada manusia. Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu genetik dan variabel apa saja yang menyertainya.
Ketika berbicara mengenai genetik, variabel yang tidak bisa dipisahkan adalah DNA (Deoxyribonucleic Acid). DNA merupakan sebuah gugus molekul yang membawa gen (kode-kode yang membawa tugas spesifik) dan tersimpan di kromosom. Since we are neither doctors nor a geneticists, we don't need to dive any deeper and enough with this understanding.
Sekarang, bagaimana sih seseorang bisa mewarisi gen yang dimiliki oleh pendahulunya? Gue menggunakan kata pendahulu karena gen yang kita miliki tidak semata-mata hanya diwariskan oleh orang tua kita. Orang tua kita memang menjadi penyumbang terbesar gen dengan porsi 50% (ayah) dan 50% (ibu), but grandparents also contribute 25%, great-grandparents 12,5% and so on until eventually the number approcahes 0%.
Dalam melakukan pewarisan, gen menganut sebuah aturan yang bisa dibilang cukup strict. Misalnya seorang ayah memiliki mata berwarna cokelat dan ibu memiliki mata berwarna biru. Meskipun tadi sempat dibahas bahwa pewarisan DNA itu memegang konsep 50-50, bukan berarti anaknya nanti akan memiliki mata kiri berwarna cokelat dan mata kanan berwarna biru—atau bukan juga warna matanya menjadi campuran antara cokelat dan biru. Mata yang nantinya dimiliki oleh anaknya memiliki peluang 50% berwarna biru secara keseluruhan atau 50% berwarna cokelat secara keseluruhan. Selain itu, terdapat juga kemungkinan warna mata lain apabila antara ayah atau ibu merupakan seorang carrier gen resesif.
Kasus di atas merupakan contoh yang paling mudah, yaitu physical traits. Hal semacam warna rambut, warna mata, tinggi badan, dan struktur wajah merupakan contoh dari physical traits dan memang sangat lumrah untuk diwariskan. Akan tetapi, selain dari segi fisik, ternyata gen juga mewariskan physiological traits dan complex traits.
Physiological traits contohnya adalah golongan darah, kecepatan metabolisme, dan juga penyakit bawaan—sedangkan complex traits meliputi kepintaran dan kepribadian. Jadi, apabila anda melihat seorang anak yang secara fisik sangat mirip dengan ayahnya, mungkin saja gen resesif ibunya lebih banyak masuk di physical traits, sedangkan gen dominannya masuk di physiological and complex traits. Sekali lagi, gen yang dibawa oleh DNA itu sudah terprogram dengan begitu ciamik dan adil oleh yang maha kuasa.
Physiological Traits and Complex Traits
Sebenarnya, yang menjadi alasan kuat gue membuat tulisan ini adalah rasa penasaran terhadap pewarisan gen non-fisik. Karena bagi gue, pewarisan fisik itu sangatlah obvious dan wajar. Misalnya, seorang yang hidungnya mancung seperti bapaknya, kulitnya putih seperti ibunya, atau bahkan rambut keriting seperti kakeknya. Seluruh hal tersebut given dan sangat nampak bagi seluruh orang "cara" pewarisannya.
Sedangkan untuk non physical traits, gue masih ga mengerti bagaimana personality or intelligence can be inherited. Hal yang membuat gue bingung dikarenakan personality ataupun intelligence ini merupakan sebuah hal yang kita obtain, bukan sesuatu yang kita dapatkan secara cuma-cuma seperti fisik. Apabila mau diwariskan-pun, bagaimana sistem pewarisannya—misalnya ayahnya dulu introvert tapi sekarang extrovert, yang diwariskan yang mana? Lalu apabila ibu nya misalnya telah mempelajari aljabar lalu otaknya membentuk koneksi baru antar neuron, apakah anaknya otomatis memiliki kemampuan aljabar tersebut? Atau sampai di mana batas pewarisannya?
Genes do not work in deterministic ways. They work in probabilistic ways. They predispose, but they do not provide the final word. Sebagaimana contoh pada gambar di atas, ketika seseorang memiliki gen Melanin, produksi melanin tersebut tidak akan keluar apabila tidak terpapar matahari (environmental factors). Ini merupakan sebuah contoh yang tentunya dapat diterapkan pula pada beberapa contoh gen non physical traits. Meskipun di contoh ini adalah fenotip, tapi gue asumsikan hal ini juga terjadi pada genotip.




Comments
Post a Comment