Nothingness

Menurut gue, ketidakpastian merupakan salah satu hal yang paling menyebalkan dalam hidup ini. Bayangkan saja, betapa menyebalkannya untuk tidak bisa mengetahui apakah besok akan hujan atau tidak, apakah kita terserang flu ketika akan liburan, dan berbagai ketidakpastian lainnya. Saking tidak sukanya manusia dengan ketidakpastian, mereka menggunakan berbagai cara untuk meminimalisir ketidakpastian, misalnya dengan statistik atau mitigasi risiko

Meskipun demikian, ketidakpastian bak pisau bermata dua. Di satu sisi ia menyebalkan karena membuat kita cemas, namun di sisi lain ketidakpastian ini juga yang membuat hidup jadi penuh dengan kejutan. Dengan demikian, rasanya kita harus bisa dengan ikhlas menerima ketidakpastian ini, dikarenakan ia hadir di dalam setiap aspek kehidupan kita—both present and future life.

You heard it right. Future life.

Ketidakpastian yang sesungguhnya baru akan kita hadapi setelah kita meninggal dunia. Menunggu pengumuman mutasi dalam pekerjaan, harga aset investasi, ataupun kedatangan pesawat di bandara—semua ini hanyalah contoh ketidakpastian duniawi yang jawabannya antara iya atau tidak, naik atau turun, benar atau salah—dan semuanya pernah dialami oleh manusia lainnya. Sementara setelah kematian, bukan hanya kita tidak mengetahui ketidakpastian apa yang nanti akan kita hadapi, tetapi juga tidak ada manusia yang bisa menceritakan pengalaman mereka.

Banyak sekali teori yang mencoba menjelaskan apa yang akan terjadi pada manusia ketika ia meninggal, baik dari sisi agama maupun keilmuan. Dari sisi biologi, apabila dikuburkan, raga manusia akan terurai kembali ke dalam tanah oleh mikroorganisme, menyisakan hanya tulang belulang. Namun dari sisi jiwa, umumnya banyak dijelaskan oleh teori-teori keagamaan. 

Secara garis besar, terdapat dua teori yang populer terkait afterlife. Bagi agama-agama Samawi, mereka percaya bahwa jiwa manusia nantinya akan dibangktikan kembali untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka semasa di dunia, yang dilanjutkan dengan konsep surga neraka berdasarkan perhitungan kebaikan/keburukan. Sedangkan itu, penganut agama Dharmik percaya akan adanya reinkarnasi setelah manusia meninggal. Intinya manusia akan terlahir kembali setelah meninggal dengan wujud yang bisa saja berbeda (makhluk hidup lain selain manusia) dan siklus ini akan terus berulang sampai terjadi reinkarnasi sempurna dan bersatu dengan Tuhan.

Kembali ke premis gue sebelumnya, afterlife merupakan ketidakpastian yang benar-benar belum ada manusia pernah merasakan dan bisa menceritakan pengalamannya. Namun anggaplah salah satu dari teori agama pada contoh di atas adalah benar—yang berarti kita bisa mengeliminasi ketidakpastian terkait apa yang akan terjadi setelah manusia meninggal dunia.

Meskipun satu ketidakpastian telah hilang, muncul ketidakpastian baru. Apabila yang terjadi setelah afterlife benar akan terjadi, sampai kapan kita akan menjalaninya? Sebagian besar agama mungkin telah memiliki jawabannya, yaitu selama-lamanya (abadi). Tetapi menurut gue, keabadiaan justru merupakan antitesis mutlak dari ketidakpastian.

Bagi gue pribadi, terlepas dari surga ataupun neraka, reinkarnasi ataupun apapun itu, keabadian merupakan sebuah konsep yang sangat menakutkan. Gue benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada dalam sebuah kondisi atau fase yang berlangsung abadi—tidak ada habisnya, melakukan hal berulang terus menerus, serta mengetahui bahwa ini akan terjadi dalam jangka waktu yang tidak terbatas.

Fun Fact, apabila nantinya masuk surga, gue sudah menyiapkan beberapa list kegiatan yang akan gue lakukan. Mulai dari meminta rewind bagaimana alam semesta terbentuk hingga hancur—mempelajari semua bahasa—mencari tau berbagai "what if" yang tidak bisa dibuktikan semasa hidup, serta berbagai kegiatan non-sense lainnya. Akan tetapi, berbagai kegiatan tersebut mungkin bisa selesai dalam kurang dari 100 tahun. Jadi, ketika berbicara keabadian, tidak hanya lebih dari 100 tahun, tapi lebih dari 1 juta tahun, lebih dari 1 milyar tahun, it's basically forever. Not like a phrase "i love you forever"—but real forever

Jika tadi gue sempat membahas terkait mitigasi risiko sebagai sebuah cara untuk meminimalisir ketidakpastian, maka ibadah menajdi salah satu mitigasi risiko yang bisa dilakukan oleh seorang yang beragama untuk menghadapi afterlife. Terlepas dari ketentraman dan kebaikan luhur yang seharusnya didapatkan seseorang ketika menjalankan ibadah, rasa tenang mengetahui bahwa kita telah melakukan mitigasi risiko—seberapa kecil pun probabilitas peristiwa tersebut akan terjadi merupakan sebuah langkah strategis.

Bagaimanapun juga, ketidakpastian menjadi sebuah hal yang selalu membayang-bayangi kita baik ketika manusia masih bernyawa maupun tidak bernyawa. Mulai dari merencanakan tanggal hingga berakhir ketika kita meninggal. Terkait penyakit yang mungkin kita akan derita hingga seberapa lama kita akan berada di surga. Uncertainty is woven into the fabric of our existence.

I am learning to live and love, without counting the cost
Without reasons and assurances, that nothing will be lost
- Kate Bowler

Comments

Popular Posts