RELATIVITY

Ketika tinggal di Jakarta, melihat bintang merupakan hal yang sangat sulit dilakukan. Padatnya polusi serta gemerlap cahaya yang menghiasi Ibu Kota menjadikan cahaya alami langit malam semakin sulit diamati. Namun untungnya, selama berada di Sulawesi Tengah, gue bisa dibilang cukup sering dan mudah melihat bintang-bintang yang menghiasi langit malam dengan mata telanjang. Gambar pembuka ini gue ambil ketika sedang berada di Pesisir Teluk Tomini, sebuah teluk terbesar di Indonesia yang membentang dari Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Utara.

Ketika kita menatap bintang, tanpa disadari kita sedang melihat masa lalu (pengamat). Hal ini disebabkan karena cahaya yang dipancarkan oleh bintang-bintang di alam semesta ini memerlukan waktu yang berbeda-beda untuk dapat terlihat oleh mata manusia di Bumi—bisa jadi 10 tahun, 500 tahun, atau bahkan jutaan tahun. Namun uniknya, bagi cahaya itu sendiri, mereka tidak membutuhkan waktu sama sekali untuk mencapai Bumi atau tempat manapun yang mereka tuju (objek yang diamati). Perbedaan sudut pandang antara "pengamat" dan "objek yang diamati" inilah yang mendasari lahirnya Teori Relativitas.

Teori Relativitas merupakan sebuah teori yang membuat Einstein menjadi sangat terkenal hingga sekarang. Secara garis besar, Einstein membagi teori ini menjadi 2 (dua): Teori Relativitas Khusus yang membahas bahwa waktu dan ruang itu relatif kecuali bagi cahaya, dan Teori Relativitas Umum yang melengkapi Teori Relativitas Khusus dengan tambahan variabel, yaitu gravitasi.

Teori ini sangatlah kompleks, i couldn't even imagine how Einstein was able to formulate this at such a young age. Tetapi, untungnya beliau sudah membuka jalan dan menyelesaikan bagian tersulitnya, sehingga sekarang gue akan mencoba membahas terkait relativitas waktu dan ruang dari perspektif seorang non-fisikawan. 

Einstein menjelaskan bahwa alam semesta tidak statis dan merupakan struktur yang fleksibel; bisa melebar, menyusut, ataupun melengkung tergantung pada materi dan energi yang ada di dalamnya. Dengan demikian, waktu didefinisikan berdasarkan seberapa cepat kita bergerak di dalam sebuah ruang. Bagi cahaya, waktu itu tidak ada—karena ia bergerak dengan sangat cepat sehingga waktu tersebut membeku.

This is where it gets interesting. klausa cahaya tidak memiliki waktu ini menurut gue sangat powerful dan sarat akan makna. Coba perhatikan ilustrasi gambar di bawah. Terdapat 3 bintang (yes, matahari juga termasuk sebuah bintang) yang memancarkan cahaya. Meskipun terkesan tidak ada cahaya di luar angkasa, nyatanya cahaya dari ketiga bintang ini saling menembus satu sama lain meskipun jaraknya sangat jauh bagi kita (well it's relative, and remind you again that there's no jauh in terms of light speed). Simpelnya, semua cahaya yang tercipta di alam semesta ini akan terpancar ke seluruh alam semesta juga—karena cahaya tercipta dan sampai di sebuah tempat (manapun itu) dalam waktu yang sama.

Sekarangg, kita coba bahas hal lain, yaitu bagaimana jika manusia mencoba untuk menyamai kecepatan cahaya. Pertama-tama, manusia sampai dengan saat ini belum mampu menciptakan sebuah benda yang dapat ditumpangi dan menyerupai kecepatan cahaya. Sebenarnya, ini technically impossible sih karena apabila kita berbicara sebuah kendaraan untuk ditumpangi pasti massa nya besar, dan dengan massa yang besar tentunya kecepatan yang dihasilkan juga semakin kecil.

Tetapii, sebenarnya ada satu cara lain agar manusia bisa mempermainkan ruang dan waktu tanpa menggunakan alat bantu—yaitu dengan berada di dekat black hole. Kalau kalian pernah nonton film Interstellar, pasti masih ingat scene akhir ketika Cooper masuk ke dalam sebuah blackhole dan waktu seakan terhenti sehingga dia bisa melihat flashback seluruh kehidupannya. Hal ini disebabkan karena ruang dan waktu tergencet dan dilengkungkan oleh besarnya gravitasi di sekitar black hole.

Meskipun tidak mungkin, mari kita asumsikan ada manusia yang berhasil bergerak dengan kecepatan cahaya, atau paling tidak 10% saja dari kecepatan cahaya: apa yang akan terjadi? Berdasarkan teori yang sudah kita bahas sejak tadi, akan terjadi perbedaan waktu relatif bagi manusia yang bergerak dengan kecepatan cahaya tersebut dan juga manusia yang bergerak dengan normal. Masih di contoh film Interstellar, ketika mereka memasuki Planet Miller satu jam berlalu di sana adalah 7 tahun di bumi. 

Hal yang harus kita perhatikan di sini adalah kata-kata relatif. 1 jam di Planet Miller bisa jadi hanya 5 tahun atau bahkan 5 jam di planet lain selain Bumi—tergantung kekuatan gravitasinya. 

Ada satu hal lagi yang gue ingin highlight dari teori relativitas ini, yaitu tidak ada perbedaan waktu antara pengamat ataupun objek yang diamati seberapa beda pun kecepatannya ataupun kekuatan gravitasi di planet yang ditinggalinya. Maksudnya, mau lu di Planet Miller ataupun di Planet Bumi, ataupun di Planet yang letaknya 1 milyar tahun cahaya dari Bumi—satu detik tetaplah satu detik, satu menit tetaplah satu menit, dan satu jam tetaplah satu jam.

In Simple terms, everybody is living in their own timeline and share the same exact "sense" of time. Lagi-lagi, perbedaan yang terkesan terjadi itu relatif apabila teramat yang mengalami perbedaan kecepatan atau gravitasi meninggalkan tempat semula lalu kembali lagi ke tempat semula. 

Alasan ini juga yang membuat gue berpendapat di awal bahwa teori ini sangatlah sarat akan makna, karena terkadang orang salah memahami dan melupakan kata kunci dari teori relativitas ini yaitu kata relatif itu sendiri. 

Comments

Popular Posts